RSS

Kosong

Seperti kopong pada gitar

Lubang pada batang pohon

Keropos pada tulang belulang

Coklat berkarat pada besi

Rongga di ruang dada

Hampa di udara

Lekuk pada inti

Tanpa materi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2022 inci remeh temeh

 

Tag: , ,

That Rain in November

It’s been raining all day long

And she sits there all alone

You will hear her humming by the window

Singing her own song

Saying her own words

She doesn’t speak like any other

The kind of sound yet undiscovered

A kind of story that no one heard

And she left it to be absurd

Will this be well preserved?

Like this droplets falling from the sky

Like this solemnly grey

Coloring the sky

Coloring your life

And as the wind caress her lonely façade

The broken tune the wind chime brings

The leaves on the tree top that sway

The endless curtain of million raindrops

The tears of her mother earth

The grief of a thousand kinds

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2021 inci puisi, remeh temeh

 

Tag: , , ,

Saat mengamati Purnama di Oktober lalu

Bulan,

Saat ia bersembunyi

Di balik awan malam ini

Angin pun berbisik

Bulan … bulan

Angin,

Saat ia melayang-layang

Di angkasa malam ini

Berkelana bersama bintang

Bintang … bintang

Bintang,

Saat ia berseri-seri

Bersama angin malam ini

Bersama-sama menyapa Bulan

Bulan … bulan

Bulan,

Lelah kah kau berjalan sendiri?

Mengarungi angkasa luas

Tak berujung tak berawal dan tak berakhir

Bulan … bulan

Awan,

Bersama malam selimuti

Biar Bulan dan Bintang menari-nari

Angin pun tersenyum

Dan lalu pergi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 3, 2021 inci puisi, remeh temeh

 

Tag: , ,

Perpustakaan Buyo

Ari sudah merasa bosan dengan buku yang dibacanya. Duduk di bawah pohon dan bersandar di batangnya yang besar dan berdiri kokoh itu, memang nyaman sekali. Teduh. Apalagi di siang seperti ini. Serbuan cahaya matahari yang panas menusuk kulit, seolah-olah dipantulkan oleh ribuan tameng daun yang melambai pelan namun menaklukkan. Ya, sama dengan buku yang ada di tangan Ari. Teguh dan berat. “Ha…ah, berapa halaman lagi sih yang harus kubaca?” keluh Ari. Barisan mantap pasukan kalimat demi kalimat itu menyerang Ari dengan tak habis-habisnya.

Ari membolak-balik halamannya. Untaian huruf demi huruf membentuk rangkaian kata-kata, lalu kemudian terciptalah dari deretan itu sebuah kalimat. Terus menerus menghiasi kertas putih yang agak kekuningan dengan tinta hitam yang hampir pudar. Lagi dan lagi. “Aah! Kenapa sih gak ada gambarnya?”, teriak Ari kesal. Buat Ari gambar itu penting dan wajib ada. Ari terus membolak-balik halaman dengan menghentak-hentakkannya. Matanya memerah lelah, mukanya keruh, dan dia pun menyerah.

Tangannya masih memegang buku yang kini ada di pangkuannya. Punggungnya kini bertumpu penuh pada batang pohon besar yang berdiri tegap di taman itu, matanya terpejam. “Aku cape,” desah Ari. Rumput hijau yang dibebani bobot badan Ari menjadi sebuah bantal yang empuk dan sejuk. Matahari pun mulai meluncur pelan dari posisi puncaknya. Angin membelai lembut helai demi helai rambut di kening Ari. Daun-daun membisikkan kata-kata yang jauh dan tak jelas di telinganya.

Kring!

Kring!

“Suara lonceng?”, Ari bertanya-tanya dalam hati. “Mungkin sepeda,” tebaknya.

Kring! Brug. Kring! Brug. Kring! Brug.

Jarak suaranya kini saling berdekatan. “Sejak kapan tempat ini jadi tempat kumpul klub sepeda?” pikir Ari. Tapi kok aneh, kini suara ‘kring’ selalu diakhiri dengan ‘brug’. Meskipun matanya terpejam, tapi Ari masih sadar betul, tak mungkin setelah membunyikan bel, orang lalu melemparkan sepeda begitu saja. Bukan, ini bukan suara yang biasa Ari dengar. Suara loncengnya aneh, terdengar samar dan jauh. Sepertinya, si pemilik lonceng tak pernah membersihkan debu di permukaannya. Sehingga ketika dia beradu dengan gentanya, suara dentangnya tidak berbunyi nyaring.

Tap … tap … tap … Kring! Brug. “Suara apa lagi ini?” alis Ari mengerut.

Kring! Brug. Tap … tap … tap …

Kriiinggg!!! Suaranya kini menggetarkan gendang telinga Ari. “Ah, ganggu!”. Ari membuka mata dan bangkit dari tempat berlindungnya. Bukunya terlempar dan tergeletak tak berdaya di halaman rumput di depannya. Ari berdiri mematung. Ari tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Matanya kini terbuka lebar. Buku itu diambil oleh seekor kucing!

Dia, atau mungkin lebih tepat kalau disebut, kucing itu berdiri dengan dua kaki belakangnya yang berbulu putih. Tingginya harmpir sama dengan Ari! Telapak kakinya jelas bertumpu pada rumput hijau yang merebah pelan oleh pijakannya. Ketika kucing itu membungkuk, punggungnya dioles halus dengan dua warna hitam dan coklat oleh Sang Pencipta. Dia berdiri kembali dan memegang buku dengan satu tangan, sementara yang satunya lagi tersembunyi di belakang punggungnya. Di bagian perut dan dadanya tersisir halus bulu putih yang bercahaya.

Alis Ari kini beradu dan membentuk satu garis lurus yang berliku-liku. Naik turun seperti dadanya, yang hilang kendali karena pikirannya kacau oleh kejadian ini. Mata sebelah kanan kucing itu memakai penutup. Seperti bajak laut! Sementara bola mata coklat kehitaman sebelah kiri menatap Ari dengan tajam. Kemudian, “kalau tidak mau dibaca, kan tidak harus dilempar,” bibir tipis mungil berwarna merah mudanya bergerak.

“A …, aa …” Ari tiba-tiba gagap. Saluran antara benda kelabu di kepala dengan bibirnya terganggu. “Ayo ikut aku”, kata si kucing masih menatap Ari dengan tajam, beranjak dari tempatnya. Seperti terhipnotis Ari pun mengikutinya berjalan ke arah pondok yang jaraknya tidak jauh dari pohon besar tempat Ari bersandar tadi. Pondok kayu mungil yang bagian atas pintu kacanya bertuliskan ‘Perpustakaan Buyo’. Kring! Kucing itu masuk, dan brug, Ari menutup pelan pintunya.

Ari terperangah melihat apa yang ada dihadapannya. Di dalam perpustakaan Buyo, tembok-temboknya adalah berak-rak buku yang bertingkat-tingkat sampai ke atap. Ada banyak, banyak sekali dan bermacam-macam jenis buku berjejalan disana. Rak kayu coklat tua itu merentang, memanjang dan berdiri sombong menantang siapapun juga untuk mengambil buku-bukunya. Di setiap tingkatnya berderet buku-buku tebal, tipis, tinggi, pendek, lebar dan ramping. Bahkan ada beberapa buku yang dengan melihatnya saja, sudah bisa ditebak usianya. Sampulnya sobek di sana-sini dan berwarna pudar seperti sudah kehilangan warna aslinya.

Ruang kosong ditengahnya, diisi oleh beberapa kursi dan meja yang imut dan mungil. Di salah satu tempat duduk yang terbuat dari rotan dan berbantal itu, diatasnya, duduk seekor kucing tua berwarna putih abu-abu, yang sedang serius membaca. Di meja tersaji semangkuk kecil susu hangat. Lantainya berlapis permadani merah bata yang bermotif jalinan bunga ros liar. Kucing dengan penutup mata itu melintasinya dan menyapa si kucing tua.

“Baca apa kali ini Tom?”, ujar kucing bajak laut agak sengau. “Ah, kau Buyo. Aku sedang mencari tahu bagaimana caranya menghilangkan bisul yang ada di kakiku ini,” jawab Tom tua, serak. “sejak aku olesi salep yang kemarin itu, sakitnya tetap tak mau pergi.”, sambil terus membaca cepat buku di pangkuannya. Jadi namanya Buyo, dan dia pemilik pondok buku mungil ini. Ari terus mengikutinya berjalan ke tengah ruangan dan berhenti ketika Buyo berdiri di depan rak yang sekaligus menjadi meja tamu dan kemudian menghadap Ari.

“Si Tom tua,” sambil menoleh ke belakangnya, “selalu berurusan dengan penyakit,” bibirnya melebar, tersenyum. Ari diam saja. Buyo melihatnya dalam-dalam, “sepertinya kau punya masalah?”, tanyanya. “Buku ini,” sambil mengayun-ayunkan buku yang dibaca Ari, “adalah buku istimewa, bagiku setiap buku pasti istimewa.” Ari bisa melihat gigi serinya yang rapi dan kecil-kecil, serta taringnya yang panjang. “Kepala kita selalu penuh dan padat berisi dengan pertanyaan, dan kita tidak akan pernah puas jika belum menemukan jawabannya, kan?” tanya Buyo, mata kirinya membesar. Penutup mata berwarna hitamnya sedikit bergeser.

“Mahkluk yang telah merasakan nikmatnya sebuah buku akan terus menerus ketagihan dan meminta lebih. Seperti si tua Tom itu, dia sedang mencari jawaban dan kepuasan! Memang tidak semua buku bisa memuaskanmu. Itu berarti tidak semua buku memegang jawabannya, kadang kamu sendirilah yang harus menyimpulkannya. Sekarang apa masalah mu?” jelas Buyo panjang lebar, sambil bersandar pada rak.

“Aku harus membuat rangkuman buku itu,” kata-kata Ari lemah dan samar terdengar. Ari menunduk. Entah kenapa dia tidak merasa canggung atau takut atas kejadian aneh yang sedang dialaminya.

“Kau kan tinggal membacanya saja!” Buyo terkekeh.

“Aku tahu! Tapi itu kan gak gampang!”, teriak Ari lantang, wajahnya menyiratkan keraguan.

Buyo memiringkan kepalanya dan berkata, “kamu tahu, kamu beruntung punya dua mata. Manfaatkan itu dan berilah matamu yang berharga itu dengan sesuatu yang berharga pula. Buku ini sarat dengan pengetahuan yang, aku yakin tidak akan merugikanmu. Malahan mungkin akan menambah wawasan. Mungkin manfaatnya akan kamu rasakan nanti, dan tidak sekarang. Kamu hanya butuh sedikit … kesabaran.” lagi-lagi Buyo menasihatinya.

“Bukunya gak rame,” Ari berkilah.

Terdengar di belakang Tom Tua mengecap susu hangatnya. Tersirat kelegaan di wajahnya saat dia kembali menekuni buku yang ada dihadapannya.

“Hey! Apa kau pikir menelan pil obat itu menyenangkan? Pahitnya bukan main tapi tetap kau minum juga kan?” mata coklat kehitamannya bulat sempurna. “Buku memang terkadang sulit untuk dicerna maknanya, tapi terus saja kau kunyah dan telan, kau akan rasakan manfaatnya,” Buyo tersenyum penuh semangat. Ari terpesona oleh sosok Buyo yang sepertinya bertambah tinggi beberapa senti, dan menyebabkan badan Ari agak mundur ke belakang.

Saat itu si tua Tom sudah selesai dengan bukunya dan bangkit dari meja mungilnya. Berjingkat-jingkat menuju rak buku dan mendekati Buyo. Bisul di kaki si Tom Tua merah menyakitkan, dan dia semakin dekat dengan Ari dan Buyo. Tapi tiba-tiba, “Kau mengerti Naaa …k.” kata-kata Buyo yang terakhir memanjang tak karuan. Si Tom tua tersandung ujung meja dan dan tak bisa bertumpu pada kakinya yang sakit. Dia pun jatuh menubruk punggung Buyo dan Ari tak bisa menghindari badan Buyo yang jatuh ke badan Ari. Dia menutup matanya takut akan cakar-cakar pada kaki Buyo, dan bruk!

“Aaw!”

Ari mengelus-elus kepalanya yang sakit. Dia membuka matanya dan ajaib! Ajaib sekali, Ari sudah kembali di bawah pohon, duduk diatas rumput. Buku tebal yang dipegang Buyo kini tergeletak didepannya. Apa yang baru saja terjadi? Kemana Buyo dan si Tom Tua? Pondoknya pun menghilang! Ari termenung dan kepalanya penuh dengan dugaan-dugaan aneh. Ketika itu dia melihat seekor kucing belang hitam coklat mengeong-ngeong tidak jelas menatap Ari tidak jauh dari tempatnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 2, 2021 inci cerpen, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Human

This colorful display, feast your eyes while it last

This monochrome act, stand still and harassed

What’s the use of wings if we don’t fly?

What’s the use of fangs if we don’t bite?

What’s the use of voice if we don’t speak?

What’s the use of words if it don’t mean?

What’s the use of us, if we don’t walk, jump and run!

What’s the use of us, if we don’t stand, defend and strike!

What’s the use of us, if we have brain but we don’t think?

What’s the use of us, if we have heart but we don’t feel?

What’s the use of us, human?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 29, 2021 inci puisi, remeh temeh

 

Tag: ,

 
%d blogger menyukai ini: