RSS

Arsip Bulanan: September 2018

dóh!

I’m sorry, I thought that we’re having a conversation
but I guess not
I just realized that I’m talking by myself
about the fact that Jupiter has 79 satellites
it’s strange how my voice seems to travel in the speed of light
that huge piece of information wasn’t big enough to hit your head
your eyes focus on that bright small device
like those flying insect naturally attracted to light

ah, my bad, I thought that we’re in the middle of a discussion
but, I guess not
I just realized that I’ve been doing a monologue
about how politician get the money for their campaign
it’s weird how I sound so loud but barely a whisper to your ear
I know it’s yesterdays news, not good enough for you to hear
your finger moves up and down on that thin layer glass
skating on that icy white screen like a pro

oops, I know, my mistake
I thought we finally did the communication
but I guess not
I just realized that this is another boring speech of mine
this lousy talk about the bad weather, o how I wish it could get better
but again my words has lost its power, nothing but a miserable beggar
and suddenly you raised your head and look at me, and I said finally
I can see it coming now, as you open your mouth, and said “what did you say?”

 

I just wanna know how you feel

Want a love that’s so proud and real

You make me wanna go out and steal

I just want it fuh you, I just want it fuh you

Paul McCartney – Fuh You

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada September 28, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , ,

mantra

take it easy on your self

don’t push it too hard

i know you want it so bad

but that doesn’t mean

you really need it

 

take a deep breath now and then

no need to rush

you’ve been secretly yearning for it

but it doesn’t mean

that’s the best thing for you

 

take the time to listen to your heart

and let your brain get the message

i know that it’s always inside of you

the power to control

right thoughts, right words, right action

 

 

been listening to Franz Ferdinand ~ Right Thoughts, Right Words, Right Action

a lot …

 

 

 

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada September 27, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , ,

watermark

there, i spotted you on the sidewalk

together hand in hand with a pretty smart looking girl

that white shirt and grey trouser

and a back pack on your shoulder

outstanding with your tall and strong figure

 

there! i saw you on the bus

together sitting next to a pretty good looking girl

that perfect complexion of your and hers skin tone

and that lethal grin on your carved like cheekbone

just one strike, makes me numb like a statue made of stone

 

there, in that coffee shop

together hanging out with your enormous herculean friend

it was an unusual yet impeccable blend

of the male fashion magazine style that you posed

just one look, and my deepest darkest secret exposed

 

there, you see? in that little house

when we first met back in 1997

you didn’t even notice me back then

but i always remember you as my big friendly giant

my beautiful, charming titan

 

there, on that sidewalk

together we were tracing down the memory lane

days of our forgotten youth we try to regain

long hours walking and laughing under the sweet rain

that fragrance, that scent still remain

 

there, i see your pictures

together, it was a family portrait

on that dimmed computer screen

with some other girl that i have never seen

and i thought, well that is just simply mean

 

here, take a good look at me

and say it straight to me ,what do you see in me?

i’m just a fool, i know

for i should have known better

this story will only end bitter

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 24, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , ,

tiga sekawan

tiga sekawan makan chik yen di pinggir jalan

berteduh di bawah pohon mahoni tinggi menjulang

asap mengepul dari roti putih isi daging ayam

meniup, mengunyah, bergumam dengan seragam

 

sekali-kali tiga sekawan memandang

bus, motor, mobil atau angkot berlalu-lalang

menderum, berdecit, dan trompet klakson sahut-sahutan

manusia-manusia mencari jalan pulang

 

tiga sekawan gelagapan kehabisan napas

menyantap makanan dengan bergegas

tiga chik yen ludes tak berbekas, kecuali alas kertas

surutlah pula gelas-gelas teh pahit panas

 

tiga sekawan memakai baju kotak-kotak serupa

masing-masing berwarna merah bata, kuning, dan biru

tiga pasang kaki itu pun kini bergerak dan melangkah maju

menyusuri trotoar yang kelak akan menjadi kenangan di masa depan

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 23, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , ,

selembar kenangan

hey kawan,

aku harap kau tidak terkejut dengan kedatangan surat ini. tapi sejak pernikahan sobat kita, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. kawan, aku benar-benar, sangat menyesal tidak datang ke pernikahanmu waktu itu. jadi di sinilah aku meminta maaf yang sedalam-dalamnya karena sungguh teramat bodoh telah melewatkan sesuatu yang begitu berharga, pernikahan salah satu sahabat terbaikku.

ketika aku melihatmu dan dia berpelukan, itu benar-benar momen yang jarang terjadi. mungkin aku akan melihatnya dua kali kalau saja aku datang ke pernikahanmu. tapi aku hanya ditakdirkan untuk melihatnya sekali saja. dan ternyata, pukulannya jadi lebih terasa. pelukan yang aku lihat saat itu adalah pelukan hangat yang bahkan lebih dari seorang kakak memeluk adiknya. kalian berdua saling berpegangan erat dan lama sekali. dan aku hanya berdiri mematung mengamati satu kejadian kecil di alam semesta yang luas.

saat itu, kita lebih dari sekadar teman, bahkan sahabat. di hari itu, dengan pelukan itu, kita melompat lebih tinggi melewati ikatan persaudaraan, tali tak terlihat telah tercipta, tak terbatas dan tak terhingga. tak ada yang bisa menjelaskan atau memahami hubungan kita, karena hanya kita bertiga yang tahu.

dan itulah yang terjadi padaku ketika dia memelukku.

aku juga ingin orang-orang yang aku cintai bisa bersama denganku ketika menikah nanti. memang selama ini kita bertiga tidak akan jauh dari perdebatan dan saling sindir. dan mereka semua menyaksikan bagaimana kita bertengkar, adu pendapat, bahkan hingga taraf perang dingin yang sangat tidak menyenangkan. tapi pada akhirnya kita selalu kembali bersama.

tapi di satu hari itu, kamu akan melihat segala sesuatunya dengan berbeda. ada bahagia, ada gugup, ada sedih, ada haru, ada tawa, ada tangis, ada takut, tapi juga sekaligus berani. semuanya bercampur aduk, bertabrakan, kisruh, kacau, berdesak-desakan  dalam satu ruang kecil di dalam diri kita. semuanya menjadi sangat tak tertahankan. menangis adalah ekspresi paling dasar yang dikaruniakan pada setiap manusia, dan itulah yang terjadi, tak ada kata hanya tetesan air mata.

dan jika aku untuk kedua kalinya mangkir dari hari pernikahan sahabatku, aku akan rugi sekali. dan benar aku telah merasakan kerugian besar itu! ketika aku melihatmu, kenapa aku tidak berada disana, di hari ketika kita hanya ingin bersama dengan orang-orang yang kita cintai? aku ingin berada di sana ketika kita mengambil sebuah langkah besar dalam fase kehidupan setiap manusia. kita tidak datang semata-mata untuk memenuhi undangan lalu menikmati hidangan kemudian bergaya di depan kamera, tapi juga menunjukkan sikap, that i will be there even though you don’t really need me.

tapi aku tidak ada di sana, dan aku tidak datang untuk menunjukkan sikap itu.

maaf.

dan aku benar-benar berterima kasih padamu.

terima kasih banyak telah mengajakku dan meyakinkan aku untuk pergi dan berpanas-panas pantat dengan motor dalam perjalanan sejauh 120 kilometer pulang pergi yang teramat menyenangkan, benar-benar tak terlupakan, menuju pernikahan sahabat kita. aku benar-benar menghargainya. dan aku rasa dia pun akan sependapat denganku, kami beruntung punya seseorang seperti dirimu, yang telah membuktikan dirinya sebagai teman spesial lebih dari sekadar tahi lalat di atas bibirnya. jadi selamat ulang tahun!!! eh salah, thank you for just being there and letting me know that you are always be around ^^

jadi kawan, aku berhutang satu pelukan ^^

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2018 in cerpen, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: