RSS

Arsip Tag: fiksi

Monolog Dua Arah

Seorang teman bertanya padaku apa artinya cinta.

Aku menatap matanya dalam-dalam dengan ekspresi tak percaya. “Kau … bertanya padaku apa arti cinta?”

Hanya bunyi dengusan yang tertahan keluar sebagai jawaban tanda tak peduli dengan soal macam itu. Lalu, sambil tersenyum, sahabatku yang baik hati itu pun mulai menggaungkan kata-kata yang sepertinya berbunyi cinta dan sayang. Keduanya sama sekali tidak kumengerti. Aku hanya manggut-mangut seolah-olah paham dengan kalimat abstrak yang dia lontarkan. Dia menikmati setiap luncuran kalimat yang keluar dari bibir tipisnya itu. Menyebalkan.

Aku bahkan tidak mengerti alasan apa yang membuat dia mengajukan pertanyaan dengan tema ini. Sebuah subjek yang tak mungkin aku angkat secara sukarela dalam sebuah percakapan. Dan kawanku tahu betul soal itu. Aneh. Cinta adalah satu hal yang tidak mungkin terjadi dalam hidupku. Dia tidak akan tersenyum dan menyapa, sekadar mengatakan hai, hallo, atau sampai jumpa. Mungkin selama ini aku dan cinta ada di jalan yang saling bersebrangan. Tak pernah sempat bertemu untuk saling mengalihkan pandangan. Setidaknya begitulah anggapanku.

“Bagaimana menurutmu?” katanya mengakhiri pidato panjang nan melelahkan itu, dengan muka nyaris merona merah. Terlalu bersemangat. Bagiku suaranya seperti dengungan radio yang bergemirisik tak jelas di pojok kamar. Sama sekali tidak bisa menangkap apa yang dia coba sampaikan. Aku katakan pada sahabatku yang bijak itu, “kalau aku menemukannya, kau kan jadi orang pertama yang kuberitahu.” Harusnya aku tahu, kau sedang terjangkit rindu yang teramat sangat saat itu.

***

Ah sobat, apa kabarmu? Lama kita tak berjumpa. Kini aku sudah, ya beginilah, setidaknya sudah agak sedikit lebih dewasa daripada waktu itu. Saat ini aku merasa ada yang berbeda dalam hidupku. Terasing dari dunia. Ada kehampaan di sudut-sudut ruang jiwaku yang mendambakan keceriaan yang lain dari biasanya. Sensasi yang berbeda yang tidak bisa aku dapatkan dari apapun di sekelilingku. Seolah ada yang hilang, tapi belum pernah aku miliki.

Selama ini aku memang bahagia, mandiri dan kebebasan itulah yang aku nilai paling tinggi dalam hidupku. Aku bisa melakukan apa pun yang kusukai! Aku seperti burung yang bisa terbang kemana pun mereka mau, jauh tinggi ke langit biru yang luas. Jauh dari pandangan orang-orang yang menilaiku dengan tidak adil. Jauh dari komentar-komentar yang menyesakkan dada.

Terbang melayang di udara, penuh dengan aura kebebasan yang memabukkan. Satu-satunya ruang yang bisa membuatku nyaman, hanya aku dan angin yang menyentuh lembut sayap yang terbentang lebar. Aku hinggap di satu pohon ke pohon yang lain, di dahan yang satu ke dahan yang lain. Tak peduli apakah mereka keberatan untuk menerimaku atau tidak. Langkahku ringan, seringan bulu. Hidup ini bebas! Tapi apakah aku benar-benar bebas?

***

Sahabatku tersayang, ternyata dengan sangat mengejutkan ada beberapa yang menawarkan cintanya padaku. Mengherankan sekali bagaimana orang seperti ini bisa menarik perhatian mereka. Bahkan aku sendiri menganggap, rasanya tidak mungkin aku lolos dari pandangan dan penilaian orang hingga tahap “disukai”.

Aku menyukai mu yang sudah berubah karena seorang kekasih. Kehadiran kekasih membuatmu tambah dewasa dan aku menyukainya. Kini aku juga ingin seperti itu. Aku ingin, ada orang yang memanggilku dengan nada yang lain dari biasanya. Aku ingin ada orang yang mengajak dan membuatku sadar bahwa aku juga punya tempat yang disebut rumah. Aku ingin ada orang yang bisa mendobrak tembok tinggi kekeraskepalaanku.

Aku ingin ada orang yang menjagaku dan menjadi tameng untuk menjauhkan orang-orang yang menggangguku. Aku ingin ada orang yang sedikit membatasi ruang gerakku, karena terlalu bebas dan sendirian itu ternyata tidak selamanya nikmat. Terbang solo itu, seperti melakukan perjalanan yang sepi di langit yang kosong. Menyedihkan.

***

Kawan, ternyata cinta itu bisa datang tanpa kita sadari ya? Tidak ada yang memberitahuku sebelumnya kalau orang itu akan datang. Tak ada peringatan, tak ada sirine, tak ada tanda-tanda sama sekali. Aku bahkan tidak tahu bagaimana awal mulanya itu bisa terjadi. Hari itu aku hanya mengantarkan surat, dan dia yang menerimanya. Aku tidak begitu memperhatikannya, tapi suaranya lembut dan senyumnya manis sekali.

Namanya Budi, nama yang bagus kan? Itu adalah pertemuan singkat yang menjadi awal dari segalanya.

Budi is made from everything that nice

Budi has a soft voice that touch you so tender

Budi has a marvelous smile, as tough the world smile with you

Selama satu bulan aku ditempatkan di tempat yang sama dengannya. Aku jadi lebih sering melihatnya. Seperti yang sudah kubilang, aku tidak terlalu memperhatikannya. Badannya yang kurus dan tinggi itu memang kegemaranku, kamu tahu kan, aku suka laki-laki ceking, lurus bagai penggaris. Tapi aku tidak begitu suka wajahnya. Seharusnya aku tahu, proses itu belum sempurna.

Kawan, di bulan Juni yang lalu itu, cuacanya cerah sekali dan aku tidak menyangka hidupku akan sangat menggembirakan. Sensasi yang begitu indah namun kuat mulai merayap dalam hatiku. Lalu tanpa kusadari, sensasi itu tumbuh menjadi nyala api yang berkilauan, membuatku selalu bersemangat dan antusias. Memberikanku energi aliran listrik, udara adalah mediumnya dan aku bisa merasakannya di setiap inci di tubuhku ini. Seperti sudah kukatakan sebelumnya, hari-hariku begitu indah di bulan Juni itu.

Kawan, aku pikir aku sudah mulai menyukai Budi seluruhnya. Aku ingin mengatakan, aku rasa aku jatuh cinta padanya, tapi aduh … aku malu. Hari itu terlalu indah untuk sekadar diceritakan kembali, sangat lebih indah lagi untuk mengalaminya langsung dan pada saat itu juga. Menakjubkan bukan? Hari demi hari aku melihatnya berseliweran di depanku. Mendengarnya bicara, mengobrol dengannya, walau hanya obrolan pendek, singkat dan langsung pada intinya tanpa basa basi. Kini aku mulai memperhatikannya. Mataku mulai terpaku pada sosoknya saja, tak ada yang kulihat selain dia.

Budi has a long dark wavy hair That drops beautifully from Budi’s head

Budi has gorgeous eyes that look straight into your heart

Kawan, dengan kehadiran Budi, hari-hariku tambah semarak dan menyenangkan. Dia memberikan gelombang ketenangan dalam udara yang aku hirup, membuatku semakin tambah segar dan ceria. Ruangan yang biasanya sangat suram dan membosankan itu sekarang menjadi lebih terang dan hidup. Kawan, aku ingin dia tahu perasaanku saat ini. Tapi bagaimana caranya? Aku ingin dia tahu aku menyukainya, aku ingin dia tahu aku ingin selalu bersamanya, aku ingin dia tahu aku ingin dia menjadi milikku. Milikku satu dan selamanya.

Even in my dreams you look as beautiful as you are

I can’t stop admiring every inch of your lovely face

Each part has their meaning

And every meaning they all make sense to me

Just one look then I’ll crave for more

If only you were mine

Kawan, ada kalanya aku sangat tidak tahan untuk mengatakannya, tapi selalu saja tidak bisa. Tiba-tiba saja aku menjadi seorang pengecut yang tak punya secuil keberanian. Aku bertindak seperti orang bodoh kalau dia ada di dekatku. Aku melakukan hal-hal bodoh yang sebenarnya tidak perlu kulakukan. Seringkali konyol juga memalukan, tak pernah bisa mensinkronkan otak dan gerak motorik. Seolah kerasukan hantu badut di sirkus keliling.

Benar-benar bodoh dan ceroboh. Aku seperti patung yang terbuat dari batu, kaku dan diam membisu. Masih ada ragu dalam hatiku untuk mengatakannya, dan seharusnya aku tahu itu. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan sains, mungkin karena umat manusia belum sampai pada tahap untuk bisa merumuskannya dalam sebuah formula. Keenggananku yang alami untuk mengutarakan perasaan, merupakan sebuah pertanda.

Kawan, pernah satu kali aku melihatnya sedang tidur di kursi. Waktu itu aku sudah mau pulang, dan di sudut kecil ruang tunggu itu hanya ada kami berdua. Budi yang sedang tidur dengan satu lengan menutupi sebagian wajahnya, dan aku, diam-diam kembali duduk di kursi di depannya. Harus kuakui itu adalah cobaan paling berat yang pernah aku alami selama ini. Kawan, apakah kau pernah melihat orang yang kau cintai tertidur? Rasanya ingin terus menatap dan mengaguminya kan?

And now Budi is sleeping on a chair in front of me

Even when Budi’s eyes is closed I stop and stare in amazement

The earth stop spinning

The clock stop ticking

My blood stop running and

My heart stop beating

The whole world fell into silence, trying not to wake Budi

The whole world watch and observe to their fully intensity

The whole world gazes in awe

The whole world is me

Selama beberapa saat, aku masih duduk disana dan memperhatikannya. Bertanya-tanya dalam hati kenapa aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari wajahnya yang tentram itu. Bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya? Karena tampaknya dia biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial. Perhatiannya padaku juga tidak lebih. Apa yang membuatnya begitu sulit untuk ditolak? Tidurnya saja begitu indah dan damai, mataku tak bisa tidak menatapnya. Lagi, lagi dan tak pernah merasa puas. Saat itu hati menjadi lebih berkuasa daripada otak.

Aku tidak bisa beranjak dari situ, semuanya memerintahkanku untuk menikmati momen yang jarang terjadi itu. Seharusnya aku tahu, tidak ada yang abadi. Kudengar langkah beberapa orang di belakang. Aku pun bergegas dan pergi dari situ. Kawan, hari itu aku bahagia sekali, ada kemantapan untuk menjadikan dia pilihanku. Pasti! Tapi tetap saja keraguan itu masih melayang –layang tak jelas dan tak pasti. Secuil keraguan yang bersarang dalam hatiku. Seharusnya aku tahu itu. Sahabatku yang baik, aku jadi berpikir, apakah laki-laki juga mengalami kesulitan yang sama seperti aku?

Disaat ada keinginan besar yang tak bisa dibendung untuk mengutarakan perasaan kita yang sesungguhnya. Apalagi aku perempuan, dan aku, ah kau tahu sendiri aku sangat minim pengalaman dalam soal ini. Aku tidak pernah peduli dengan soal seperti ini sebelumnya. Bagiku orang yang terlibat dalam soal cinta adalah orang yang membuang-buang waktu dan pikiran untuk sesuatu, yang seperti dulu, jauh-jauh hari sebelumnya kukatakan, abstrak. Tapi kini aku ada di dalamnya. Di dunia abstrak yang hanya orang-orang berjiwa seni tinggi yang bisa mengerti keindahannya.

Selama ini aku berada di luar lingkaran dan menganggap itu semua adalah hal bodoh, karena aku tidak tahu dan tidak mengerti. Kini dunia adalah sesuatu yang baru dilahirkan, suci, bersih dan agung. Kawan, kau bilang,

you’ll never know his feeling if you never ask.

Kau benar dan selamanya aku akan merasa penasaran dan benar-benar menjadi seorang pengecut jika aku tidak menyatakannya. Lagi pula aku pegang teguh kata-katamu,

know not about receive or reject, it’s all about letting out what’s inside your heart.

***

Sahabatku yang baik, hari ini aku ingin menjawab pertanyaan yang pernah kau tanyakan padaku. Masih ingat kan? Aku telah menemukannya, cinta. Rasanya begitu indah dan kau akan mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya. Sahabatku tersayang, aku menuruti nasihatmu, aku mengeluarkan isi hatiku padanya. Rasanya begitu lega, hatiku lapang sekali. Tapi seperti bongkahan meteor yang panas baru saja diangkat dari jantungku. Meninggalkan luka bakar yang dalam, panas membara dan berbekas. Sahabat, ternyata cinta itu bisa sangat menyakitkan ya? Karena ternyata dia seperti kamu, dia sudah punya seorang kekasih. Seharusnya aku tahu itu, seharusnya aku lebih memperhatikan keraguanku waktu itu. Sahabatku, kini aku ingin bertanya padamu. Kalau cinta itu ternyata bukan milikku, apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa mengobatinya? Karena dia sama sekali tak tergantikan.

Lost is my love

Lost is my life

It’s my shattered broken dreams

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 9, 2018 in cerpen, puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

hello distant star

Hello distant star

I can see your light

Try to shine a little brighter for me

Reach me down in this cold solid earth

Hello distant star

Tell me what’s your story

Tell me what you hear

Tell me what you see

Hello distant star

So silence, so still

Yet so bright

But no matter

Let’s cruise the night together

On the fathomless dark blue space

And this lonely breeze

Hoping to cheer up these gloomy days

 

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada September 6, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Dear Daniel

Staring at the dark bluish sky

Where millions of silver stars are painted

And the lighted crescent moon

Sparkled in your deep bright eyes

Their dim and distant shines through

A thin layered squashed transparent clouds

 

Staring at you, radiant and mesmerizing you

Where millions of word can’t described

And to see the charming emerald green

That is your deep bright eyes

They gaze back at me, see right through me

In the endless moment we understand each other in silence

And the night slowly passed, as the light of the moon fades away

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 29, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Watchdogs

What are we watching?

Just human playing their role

Picking a part of something new

There is no new you

Just us getting rusty

Corroded by lust, envy, greed and pride

And you told me its human nature

One way to survive

Emerging in the time of crisis

What crisis are we in anyway

Just a role playing game

We as not our self

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 28, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Satu

Mimpiku satu

‘Tuk bisa bersamamu

Langkahku satu

Menuju ke arahmu

Hatiku satu

‘Tuk kuberikan hanya padamu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 27, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: