RSS

Arsip Kategori: cerpen

selembar kenangan

hey kawan,

aku harap kau tidak terkejut dengan kedatangan surat ini. tapi sejak pernikahan sobat kita, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. kawan, aku benar-benar, sangat menyesal tidak datang ke pernikahanmu waktu itu. jadi di sinilah aku meminta maaf yang sedalam-dalamnya karena sungguh teramat bodoh telah melewatkan sesuatu yang begitu berharga, pernikahan salah satu sahabat terbaikku.

ketika aku melihatmu dan dia berpelukan, itu benar-benar momen yang jarang terjadi. mungkin aku akan melihatnya dua kali kalau saja aku datang ke pernikahanmu. tapi aku hanya ditakdirkan untuk melihatnya sekali saja. dan ternyata, pukulannya jadi lebih terasa. pelukan yang aku lihat saat itu adalah pelukan hangat yang bahkan lebih dari seorang kakak memeluk adiknya. kalian berdua saling berpegangan erat dan lama sekali. dan aku hanya berdiri mematung mengamati satu kejadian kecil di alam semesta yang luas.

saat itu, kita lebih dari sekadar teman, bahkan sahabat. di hari itu, dengan pelukan itu, kita melompat lebih tinggi melewati ikatan persaudaraan, tali tak terlihat telah tercipta, tak terbatas dan tak terhingga. tak ada yang bisa menjelaskan atau memahami hubungan kita, karena hanya kita bertiga yang tahu.

dan itulah yang terjadi padaku ketika dia memelukku.

aku juga ingin orang-orang yang aku cintai bisa bersama denganku ketika menikah nanti. memang selama ini kita bertiga tidak akan jauh dari perdebatan dan saling sindir. dan mereka semua menyaksikan bagaimana kita bertengkar, adu pendapat, bahkan hingga taraf perang dingin yang sangat tidak menyenangkan. tapi pada akhirnya kita selalu kembali bersama.

tapi di satu hari itu, kamu akan melihat segala sesuatunya dengan berbeda. ada bahagia, ada gugup, ada sedih, ada haru, ada tawa, ada tangis, ada takut, tapi juga sekaligus berani. semuanya bercampur aduk, bertabrakan, kisruh, kacau, berdesak-desakan  dalam satu ruang kecil di dalam diri kita. semuanya menjadi sangat tak tertahankan. menangis adalah ekspresi paling dasar yang dikaruniakan pada setiap manusia, dan itulah yang terjadi, tak ada kata hanya tetesan air mata.

dan jika aku untuk kedua kalinya mangkir dari hari pernikahan sahabatku, aku akan rugi sekali. dan benar aku telah merasakan kerugian besar itu! ketika aku melihatmu, kenapa aku tidak berada disana, di hari ketika kita hanya ingin bersama dengan orang-orang yang kita cintai? aku ingin berada di sana ketika kita mengambil sebuah langkah besar dalam fase kehidupan setiap manusia. kita tidak datang semata-mata untuk memenuhi undangan lalu menikmati hidangan kemudian bergaya di depan kamera, tapi juga menunjukkan sikap, that i will be there even though you don’t really need me.

tapi aku tidak ada di sana, dan aku tidak datang untuk menunjukkan sikap itu.

maaf.

dan aku benar-benar berterima kasih padamu.

terima kasih banyak telah mengajakku dan meyakinkan aku untuk pergi dan berpanas-panas pantat dengan motor dalam perjalanan sejauh 120 kilometer pulang pergi yang teramat menyenangkan, benar-benar tak terlupakan, menuju pernikahan sahabat kita. aku benar-benar menghargainya. dan aku rasa dia pun akan sependapat denganku, kami beruntung punya seseorang seperti dirimu, yang telah membuktikan dirinya sebagai teman spesial lebih dari sekadar tahi lalat di atas bibirnya. jadi selamat ulang tahun!!! eh salah, thank you for just being there and letting me know that you are always be around ^^

jadi kawan, aku berhutang satu pelukan ^^

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 22, 2018 in cerpen, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , ,

Monolog Dua Arah

Seorang teman bertanya padaku apa artinya cinta.

Aku menatap matanya dalam-dalam dengan ekspresi tak percaya. “Kau … bertanya padaku apa arti cinta?”

Hanya bunyi dengusan yang tertahan keluar sebagai jawaban tanda tak peduli dengan soal macam itu. Lalu, sambil tersenyum, sahabatku yang baik hati itu pun mulai menggaungkan kata-kata yang sepertinya berbunyi cinta dan sayang. Keduanya sama sekali tidak kumengerti. Aku hanya manggut-mangut seolah-olah paham dengan kalimat abstrak yang dia lontarkan. Dia menikmati setiap luncuran kalimat yang keluar dari bibir tipisnya itu. Menyebalkan.

Aku bahkan tidak mengerti alasan apa yang membuat dia mengajukan pertanyaan dengan tema ini. Sebuah subjek yang tak mungkin aku angkat secara sukarela dalam sebuah percakapan. Dan kawanku tahu betul soal itu. Aneh. Cinta adalah satu hal yang tidak mungkin terjadi dalam hidupku. Dia tidak akan tersenyum dan menyapa, sekadar mengatakan hai, hallo, atau sampai jumpa. Mungkin selama ini aku dan cinta ada di jalan yang saling bersebrangan. Tak pernah sempat bertemu untuk saling mengalihkan pandangan. Setidaknya begitulah anggapanku.

“Bagaimana menurutmu?” katanya mengakhiri pidato panjang nan melelahkan itu, dengan muka nyaris merona merah. Terlalu bersemangat. Bagiku suaranya seperti dengungan radio yang bergemirisik tak jelas di pojok kamar. Sama sekali tidak bisa menangkap apa yang dia coba sampaikan. Aku katakan pada sahabatku yang bijak itu, “kalau aku menemukannya, kau kan jadi orang pertama yang kuberitahu.” Harusnya aku tahu, kau sedang terjangkit rindu yang teramat sangat saat itu.

***

Ah sobat, apa kabarmu? Lama kita tak berjumpa. Kini aku sudah, ya beginilah, setidaknya sudah agak sedikit lebih dewasa daripada waktu itu. Saat ini aku merasa ada yang berbeda dalam hidupku. Terasing dari dunia. Ada kehampaan di sudut-sudut ruang jiwaku yang mendambakan keceriaan yang lain dari biasanya. Sensasi yang berbeda yang tidak bisa aku dapatkan dari apapun di sekelilingku. Seolah ada yang hilang, tapi belum pernah aku miliki.

Selama ini aku memang bahagia, mandiri dan kebebasan itulah yang aku nilai paling tinggi dalam hidupku. Aku bisa melakukan apa pun yang kusukai! Aku seperti burung yang bisa terbang kemana pun mereka mau, jauh tinggi ke langit biru yang luas. Jauh dari pandangan orang-orang yang menilaiku dengan tidak adil. Jauh dari komentar-komentar yang menyesakkan dada.

Terbang melayang di udara, penuh dengan aura kebebasan yang memabukkan. Satu-satunya ruang yang bisa membuatku nyaman, hanya aku dan angin yang menyentuh lembut sayap yang terbentang lebar. Aku hinggap di satu pohon ke pohon yang lain, di dahan yang satu ke dahan yang lain. Tak peduli apakah mereka keberatan untuk menerimaku atau tidak. Langkahku ringan, seringan bulu. Hidup ini bebas! Tapi apakah aku benar-benar bebas?

***

Sahabatku tersayang, ternyata dengan sangat mengejutkan ada beberapa yang menawarkan cintanya padaku. Mengherankan sekali bagaimana orang seperti ini bisa menarik perhatian mereka. Bahkan aku sendiri menganggap, rasanya tidak mungkin aku lolos dari pandangan dan penilaian orang hingga tahap “disukai”.

Aku menyukai mu yang sudah berubah karena seorang kekasih. Kehadiran kekasih membuatmu tambah dewasa dan aku menyukainya. Kini aku juga ingin seperti itu. Aku ingin, ada orang yang memanggilku dengan nada yang lain dari biasanya. Aku ingin ada orang yang mengajak dan membuatku sadar bahwa aku juga punya tempat yang disebut rumah. Aku ingin ada orang yang bisa mendobrak tembok tinggi kekeraskepalaanku.

Aku ingin ada orang yang menjagaku dan menjadi tameng untuk menjauhkan orang-orang yang menggangguku. Aku ingin ada orang yang sedikit membatasi ruang gerakku, karena terlalu bebas dan sendirian itu ternyata tidak selamanya nikmat. Terbang solo itu, seperti melakukan perjalanan yang sepi di langit yang kosong. Menyedihkan.

***

Kawan, ternyata cinta itu bisa datang tanpa kita sadari ya? Tidak ada yang memberitahuku sebelumnya kalau orang itu akan datang. Tak ada peringatan, tak ada sirine, tak ada tanda-tanda sama sekali. Aku bahkan tidak tahu bagaimana awal mulanya itu bisa terjadi. Hari itu aku hanya mengantarkan surat, dan dia yang menerimanya. Aku tidak begitu memperhatikannya, tapi suaranya lembut dan senyumnya manis sekali.

Namanya Budi, nama yang bagus kan? Itu adalah pertemuan singkat yang menjadi awal dari segalanya.

Budi is made from everything that nice

Budi has a soft voice that touch you so tender

Budi has a marvelous smile, as tough the world smile with you

Selama satu bulan aku ditempatkan di tempat yang sama dengannya. Aku jadi lebih sering melihatnya. Seperti yang sudah kubilang, aku tidak terlalu memperhatikannya. Badannya yang kurus dan tinggi itu memang kegemaranku, kamu tahu kan, aku suka laki-laki ceking, lurus bagai penggaris. Tapi aku tidak begitu suka wajahnya. Seharusnya aku tahu, proses itu belum sempurna.

Kawan, di bulan Juni yang lalu itu, cuacanya cerah sekali dan aku tidak menyangka hidupku akan sangat menggembirakan. Sensasi yang begitu indah namun kuat mulai merayap dalam hatiku. Lalu tanpa kusadari, sensasi itu tumbuh menjadi nyala api yang berkilauan, membuatku selalu bersemangat dan antusias. Memberikanku energi aliran listrik, udara adalah mediumnya dan aku bisa merasakannya di setiap inci di tubuhku ini. Seperti sudah kukatakan sebelumnya, hari-hariku begitu indah di bulan Juni itu.

Kawan, aku pikir aku sudah mulai menyukai Budi seluruhnya. Aku ingin mengatakan, aku rasa aku jatuh cinta padanya, tapi aduh … aku malu. Hari itu terlalu indah untuk sekadar diceritakan kembali, sangat lebih indah lagi untuk mengalaminya langsung dan pada saat itu juga. Menakjubkan bukan? Hari demi hari aku melihatnya berseliweran di depanku. Mendengarnya bicara, mengobrol dengannya, walau hanya obrolan pendek, singkat dan langsung pada intinya tanpa basa basi. Kini aku mulai memperhatikannya. Mataku mulai terpaku pada sosoknya saja, tak ada yang kulihat selain dia.

Budi has a long dark wavy hair That drops beautifully from Budi’s head

Budi has gorgeous eyes that look straight into your heart

Kawan, dengan kehadiran Budi, hari-hariku tambah semarak dan menyenangkan. Dia memberikan gelombang ketenangan dalam udara yang aku hirup, membuatku semakin tambah segar dan ceria. Ruangan yang biasanya sangat suram dan membosankan itu sekarang menjadi lebih terang dan hidup. Kawan, aku ingin dia tahu perasaanku saat ini. Tapi bagaimana caranya? Aku ingin dia tahu aku menyukainya, aku ingin dia tahu aku ingin selalu bersamanya, aku ingin dia tahu aku ingin dia menjadi milikku. Milikku satu dan selamanya.

Even in my dreams you look as beautiful as you are

I can’t stop admiring every inch of your lovely face

Each part has their meaning

And every meaning they all make sense to me

Just one look then I’ll crave for more

If only you were mine

Kawan, ada kalanya aku sangat tidak tahan untuk mengatakannya, tapi selalu saja tidak bisa. Tiba-tiba saja aku menjadi seorang pengecut yang tak punya secuil keberanian. Aku bertindak seperti orang bodoh kalau dia ada di dekatku. Aku melakukan hal-hal bodoh yang sebenarnya tidak perlu kulakukan. Seringkali konyol juga memalukan, tak pernah bisa mensinkronkan otak dan gerak motorik. Seolah kerasukan hantu badut di sirkus keliling.

Benar-benar bodoh dan ceroboh. Aku seperti patung yang terbuat dari batu, kaku dan diam membisu. Masih ada ragu dalam hatiku untuk mengatakannya, dan seharusnya aku tahu itu. Ada hal yang tidak bisa dijelaskan dengan sains, mungkin karena umat manusia belum sampai pada tahap untuk bisa merumuskannya dalam sebuah formula. Keenggananku yang alami untuk mengutarakan perasaan, merupakan sebuah pertanda.

Kawan, pernah satu kali aku melihatnya sedang tidur di kursi. Waktu itu aku sudah mau pulang, dan di sudut kecil ruang tunggu itu hanya ada kami berdua. Budi yang sedang tidur dengan satu lengan menutupi sebagian wajahnya, dan aku, diam-diam kembali duduk di kursi di depannya. Harus kuakui itu adalah cobaan paling berat yang pernah aku alami selama ini. Kawan, apakah kau pernah melihat orang yang kau cintai tertidur? Rasanya ingin terus menatap dan mengaguminya kan?

And now Budi is sleeping on a chair in front of me

Even when Budi’s eyes is closed I stop and stare in amazement

The earth stop spinning

The clock stop ticking

My blood stop running and

My heart stop beating

The whole world fell into silence, trying not to wake Budi

The whole world watch and observe to their fully intensity

The whole world gazes in awe

The whole world is me

Selama beberapa saat, aku masih duduk disana dan memperhatikannya. Bertanya-tanya dalam hati kenapa aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari wajahnya yang tentram itu. Bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya? Karena tampaknya dia biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial. Perhatiannya padaku juga tidak lebih. Apa yang membuatnya begitu sulit untuk ditolak? Tidurnya saja begitu indah dan damai, mataku tak bisa tidak menatapnya. Lagi, lagi dan tak pernah merasa puas. Saat itu hati menjadi lebih berkuasa daripada otak.

Aku tidak bisa beranjak dari situ, semuanya memerintahkanku untuk menikmati momen yang jarang terjadi itu. Seharusnya aku tahu, tidak ada yang abadi. Kudengar langkah beberapa orang di belakang. Aku pun bergegas dan pergi dari situ. Kawan, hari itu aku bahagia sekali, ada kemantapan untuk menjadikan dia pilihanku. Pasti! Tapi tetap saja keraguan itu masih melayang –layang tak jelas dan tak pasti. Secuil keraguan yang bersarang dalam hatiku. Seharusnya aku tahu itu. Sahabatku yang baik, aku jadi berpikir, apakah laki-laki juga mengalami kesulitan yang sama seperti aku?

Disaat ada keinginan besar yang tak bisa dibendung untuk mengutarakan perasaan kita yang sesungguhnya. Apalagi aku perempuan, dan aku, ah kau tahu sendiri aku sangat minim pengalaman dalam soal ini. Aku tidak pernah peduli dengan soal seperti ini sebelumnya. Bagiku orang yang terlibat dalam soal cinta adalah orang yang membuang-buang waktu dan pikiran untuk sesuatu, yang seperti dulu, jauh-jauh hari sebelumnya kukatakan, abstrak. Tapi kini aku ada di dalamnya. Di dunia abstrak yang hanya orang-orang berjiwa seni tinggi yang bisa mengerti keindahannya.

Selama ini aku berada di luar lingkaran dan menganggap itu semua adalah hal bodoh, karena aku tidak tahu dan tidak mengerti. Kini dunia adalah sesuatu yang baru dilahirkan, suci, bersih dan agung. Kawan, kau bilang,

you’ll never know his feeling if you never ask.

Kau benar dan selamanya aku akan merasa penasaran dan benar-benar menjadi seorang pengecut jika aku tidak menyatakannya. Lagi pula aku pegang teguh kata-katamu,

know not about receive or reject, it’s all about letting out what’s inside your heart.

***

Sahabatku yang baik, hari ini aku ingin menjawab pertanyaan yang pernah kau tanyakan padaku. Masih ingat kan? Aku telah menemukannya, cinta. Rasanya begitu indah dan kau akan mengorbankan apa saja untuk mendapatkannya. Sahabatku tersayang, aku menuruti nasihatmu, aku mengeluarkan isi hatiku padanya. Rasanya begitu lega, hatiku lapang sekali. Tapi seperti bongkahan meteor yang panas baru saja diangkat dari jantungku. Meninggalkan luka bakar yang dalam, panas membara dan berbekas. Sahabat, ternyata cinta itu bisa sangat menyakitkan ya? Karena ternyata dia seperti kamu, dia sudah punya seorang kekasih. Seharusnya aku tahu itu, seharusnya aku lebih memperhatikan keraguanku waktu itu. Sahabatku, kini aku ingin bertanya padamu. Kalau cinta itu ternyata bukan milikku, apa yang harus kulakukan? Apa yang bisa mengobatinya? Karena dia sama sekali tak tergantikan.

Lost is my love

Lost is my life

It’s my shattered broken dreams

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 9, 2018 in cerpen, puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: