RSS

Arsip Tag: sunda

0110

Rasanya sayang sekali jika tidak mengukir angka cantik itu dalam sebuah tulisan 😁

Hari pertama di bulan Oktober diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila, kita semua tahu itu. Tapi ingatanku sudah agak tumpul terutama jika menyangkut sejarah, maaf. Yang jelas, kejadiannya berhubungan erat dengan peristiwa 30 September 1965, dan ini akan menimbulkan perdebatan panjang… πŸ™„

Jadi … hari ini rumah keluarga kami beraroma rempah-rempahan. Percobaan untuk membuat beras merah menjadi hidangan yang sedap di mata juga nikmat di lidah. Kakak, membuat nasi liwet beras merah, selain daun salam dan batang serai, dia juga memasukkan daun kemangi. Yah, daun yang kelewat wangi malah, karena aromanya, hidangan biasa bisa naik tingkat jadi luar biasa.

Seperti biasa bawang merah dan cabai merah yang ditumis sebentar ikut bergabung disana. Ranjau kecil berbahaya, cabai rawit berwarna jingga dan hijau cerah tak ketinggalan. Setelah matang, nasi dibungkus dengan daun pisang, lalu dipanggang. Yep, jadi ketika asap menguar dari pemanggangan, wangi manis daun pisang yang terbakar mulai menyebar ke seluruh ruangan di rumah kami.Β Dan tidak ada satu pun yang bisa menolaknya.

Bahkan ketika kami selesai makan pun, wanginya tidak mau pergi. Sama seperti aroma ikan asin ketika digoreng, benar-benar awet melayang-layang di udara, atau bau sambal terasi yang menempel di tangan walau sudah dicuci dengan sabun. Tapi wangi daun pisang yang terbakar tidak terlalu menyebalkan, menyenangkan malah. Rasanya seperti berkunjung ke restoran Sunda yang sudah melegenda, berkumpul bersama keluarga.

Jadi selain hari Kesaktian Pancasila, mungkin keluarga kami akan mempertimbangkan untuk membuat hari ini menjadi hari nasi merah liwet bakar πŸ˜πŸ™

Bulan ini dengan pasti akan lebih mengingatkanku pada orangtua. Almarhum bapa adalah seorang purnawirawan ABRI, dan tanggal 5 nanti akan diperingati sebagai hari jadi TNI. Ada cukup banyak kenangan yang selalu muncul jika menyebut tentara dan ayah. Seringnya bersamaan dengan warna hijau dalam beragam gradasi. Dan aku bangga memiliki ayah seorang tentara 😊.

Tapi di bulan kesepuluh ini dua tahun yang lalu, aku kehilangan ibu. Beliau meninggal hari Kamis, dan kami memakamkannya di hari Jum’at yang cerah, tidak jauh dari makam bapa. Dengan sangat mengejutkan aku cukup tenang menjalani proses itu. Yang kentara hanya suaraku yang menghilang, tenggorokan ku sakit dan sepertinya terserang flu berat.

Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, aku merasa sendiri, meskipun sudah dewasa dan masih ada saudara kandung, tapi jika tidak ada orang tua, seolah-olah aku tidak punya tempat yang bisa kusebut ‘rumah’. Mungkin secara fisik, berwujud, tapi jiwanya sudah hilang. Meskipun demikian, aku ingin bulan ini menjadi seperti bulan-bulan yang lain. Setiap harinya dijalani dengan harapan tidak akan membawa nama jelek pada kedua almarhum.

Tidak bermaksud untuk mengakhiri tulisan ini dengan suasana murung, aku harap semuanya baik-baik saja, bisa berkumpul bersama keluarga terutama orang tua adalah sebuah anugrah, jangan sampai kita menyia-nyiakan momen itu. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk melihat-lihat blog yang sederhana ini, membaca tulisan remeh temeh dan puisi-puisi ‘s words’Β , juga berkomentar, saya benar-benar menghargainya πŸ™πŸ˜Š

Selamat bulan Oktober 😊

Ini agak sedikit memalukan sebenarnya, segera setelah menulis tulisan di atas, langsung tertidur dan sayangnya tertunda hingga hari ini 😁

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 5, 2018 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Kamana atuh Kamana?

teringat suatu masa ketika ebtanas kelas 6 sd. aku harus membawakan lagu sunda dalam pelajaran kesenian. lalu ibuku menyarankan lagu ini. saat itu aku tidak terlalu ‘ngeh’ dengan maknanya, yang penting nadanya enakeun! ^^ aku ingat bahkan guru ku tercinta kurang familiar dengan lagunya, tapi ketika dia mendengarkan nadanya, terdengar suara pelan keluar dari mulutnya “ooo …” nah, apalagi teman-teman sd ku, mereka bahkan tidak tahu lagu itu ada ^^

 

sekarang aku harus menempuh sebuah tes lagi … yang mengharuskan dan memang tidak ada yang lain yang aku bisa selain menyanyi. maka aku teringat nasihat ibuku waktu itu. nadanya mudah diingat dan liriknya pendek, meski aku sudah lupa. aku tidak tahu judulnya, yang aku ingat adalah lirik pertamanya saja “kamana panutan abdi”. maka aku mencari audio dan liriknya. ternyata tidak sulit. dan ternyata lagi, lagunya lagu patah hati.

 

“kamana panutan abdi

nu sok biasa sumping

kamana panutan rasa

anu sok sering ngariksa

 

tara tara tisasari

abdi ngaraos sepi

teu kinten abdi sonona

tos lami teu patepang

 

ieu abdi leungiteun

mondok sok tara tibra

ieu abdi leungiteun

neda tara mirasa”

 

aku tidak menyangka lagu yang pernah kubawakan dulu, menjadi sangat berarti saat ini. aku bahkan tidak terlalu paham dengan liriknya dulu, yang penting nyanyi dan dapat nilai, tapi yang jelas akan sangat berbeda dengan sekarang. apa yang tersimpan dalam bank memori kita mungkin suatu saat akan muncul kembali dan ketika kita mengingatnya dengan baik, ada suatu pelajaran yang tersembunyi di dalamnya. dulu bab itu masih tersembunyi dan kini saatnya untuk mempelajari bab tersebut. dulu mungkin sama sekali tak ada artinya, tapi kini, lambat laun kita sendiri akan menyadari ada berjuta makna yang tersimpan di dalamnya.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2011 in jurnal, musik, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: