RSS

Arsip Tag: pohon

Pohon

Pohon tua di hutan kuno yang keras kepala

Tinggi menjulang, murung dan sendirian

Waktu berselang, raga bertahan, jiwa semakin usang

Sesekali angin datang menyapa hidupnya

Yang panjang dan membosankan

Menyentuh dalam diam

 

O, bayu, kabar apa yang kau bawa?

Bisikkan sepenggal kisah tentang dia yang kurindu

Tiupkan aroma hangat tubuhnya yang aku suka

Minyak rambut, sabun kesehatan dan sebatang rokok

 

Seharusnya kau melihat dia ketika menari

Dahan demi dahan menggapai langit

Ranting demi ranting mengulur kesana kemari

Baru saja beralih dari hijau menjadi coklat muda yang kusam

Bercabang-cabang, meliuk-liuk sejauh yang pokok kayu bisa berikan

Gelap, kasar dan berlumut, kuat, kekar dan perkasa

 

Jika beruntung kau bisa tertawa bersamanya

Daun-daun hijau, muda dan tua, tebal dan tipis, keras dan lentur

Tertarik ke depan dan ke belakang, melambai ke kiri dan ke kanan

Berputar-putar berayun-ayun tak peduli arah tak peduli irama

Bersenda gurau dengan angin, persahabatan yang tak pernah luntur

Bertukar alunan bahasa purba, bersenandung bersama kawan

 

Duhai pawana, jangan tinggalkan aku sendiri

Diam, termenung, mengawasi kehidupan

Hembuskan lagi wangi harum tubuhnya yang aku suka

Kapur barus, pasta gigi dan daun kemangi

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , ,

tiga sekawan

tiga sekawan makan chik yen di pinggir jalan

berteduh di bawah pohon mahoni tinggi menjulang

asap mengepul dari roti putih isi daging ayam

meniup, mengunyah, bergumam dengan seragam

 

sekali-kali tiga sekawan memandang

bus, motor, mobil atau angkot berlalu-lalang

menderum, berdecit, dan trompet klakson sahut-sahutan

manusia-manusia mencari jalan pulang

 

tiga sekawan gelagapan kehabisan napas

menyantap makanan dengan bergegas

tiga chik yen ludes tak berbekas, kecuali alas kertas

surutlah pula gelas-gelas teh pahit panas

 

tiga sekawan memakai baju kotak-kotak serupa

masing-masing berwarna merah bata, kuning, dan biru

tiga pasang kaki itu pun kini bergerak dan melangkah maju

menyusuri trotoar yang kelak akan menjadi kenangan di masa depan

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 23, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: