RSS

Arsip Tag: memori

Love Letter

To my dearest person,

I want you to know that I will always love you forever, for the rest of my life. There is nothing in this world that would change all my feelings for you. I hope you understand that I only have one heart and it’s already filled by you. You are the greatest gift that God had given me and what you gave me, I just couldn’t ask for more. Thank you for the lovely gift.

My dear,

I have loved you in my youth. When I first met you, all those teenage dream comes rolling into me. Unstoppable. I thought it’s going to be fantastic. You are the guy with everything just in the right place. I know it since then, that this will be dramatic. My feet wont touch the ground. It’s hazy inside my head and I can’t seem to do anything right. And you’re laughing me instead. The sun is in the sky, it’s a lovely day. Don’t want to be anywhere, but here. Anyway, you look so sweet with that smile.

Oh my love,

Years gone by, and I love you still. One thing to do is telling you how I feel. The truth is, it’s making me frantic. I never thought about it before. Who would ever know, that the result of my action will be so ironic. You make everything sound true. Or is it because I honestly believed in you. You’re telling me lies. And I don’t know the reason why. You left me with questions unanswered. You seem really nice, but I guess I don’t really know you. Why are you telling me all those lies?

My darling,

The rain did stop at the end of the year, leaving me only with the strong wind, that blows almost everyone and the memory of us. But then it starts falling again when the year just began. The tiny bits of me and you, getting smaller and slowly disappear. It’s a cloudy morning in January, when somebody just been re-born. And everything just like the way it always be. Nothing is changing. There will be no me and you in every ending of every story that ever born in this world.

So I guess this is where I must leave, understanding your gesture very well. There is nothing left for me anyway, is it my sweet? Hmm … Nothing, but a big empty space in this vast universe.

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 26, 2018 in remeh temeh, Uncategorized

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

For My Beloved Teachers

my beloved teacher would tweak or pull my ears quite hard, and it hurts, cause i wont sit still and go outside the classroom playing around during study time ^^  …

my beloved teacher told me to cut my hair, cause my hairdo is like, he said, a devil’s companion ^^ …

my beloved teacher told me to shush my mouth, cause i made silly joke about geography during her explanation =p …

my beloved teacher told me to stop kicking off the dirt in the field during the ceremony =D…

my beloved teacher told me to stay until the class is finished to clean the whiteboard and scold me in front of my friends cause i made silly mistake using the wrong board marker … doh! …

but my beloved teacher also told me that discipline is needed to keep us on the right track. they also told me that we need to respect each other in order to respect our self too. they told me to be precise, doing what you’d love to do and be responsible at the same time. they told me to share what we’ve got with others, take the benefit by sharing, and make my self useful in this whole wide world.

and here i am now, not knowing if i’m already lived my life the way they’ve told me to. am i being such a good person? cause sometimes i just simply forget what they’ve told me =p … and on this day i just remember that i should be grateful to know each and every one of them, guiding me always with their wisdom, their words are always there in my heart, inside of me, saved in my bank of memory, all i need to do is just simply recall it, or read this thing right here again and again 🙂

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 24, 2018 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

17 Agustus

hari ini 73 tahun yang lalu Indonesia merdeka, tapi buatku bulan Agustus adalah bulan yang penuh dengan kenangan setiap tahunnya.

bulan ini diisi dengan perayaan ulang tahun beberapa anggota keluargaku, alm. mamah, teteh, dua tante ku, keponakan, dan dua kakak ipar, mungkin akan bertambah lagi jika aku mendata setiap anggota keluarga dari yang paling senior hingga yang baru lahir hahaha … dan itu akan sangat menyenangkan 😀

malam ini tahun 1995, aku ingat makan kelepon, makanan tradisional seperti bola dan berwarna hijau pas untuk sekali suap, di balut kelapa parut, dan ketika digigit, gula merah cair meledak dan meleleh dalam mulutmu, manis … manis … manis … Yah seharusnya begitu, tapi di hari itu aku memilih untuk mengigitnya di luar mulut, dan cairan coklat mengkilat itupun menyembur dengan tepat sekali di muka almarhum kakak pertama ku ;D … maaf … maaf … maaf …

sore itu tahun 1997, aku menunggu di dalam mobil yang terparkir di komplek perkantoran. menunggu anggota paskibra yang telah menyelesaikan tugasnya menurunkan bendera merah putih. mereka terus berjalan dan berbaris dengan rapih sampai tempat parkir itu, yang letaknya sudah lumayan jauh dari lapangan tempat upacara diadakan. kemudian ketika selesai mereka bersorak dan beberapa diantaranya melompat-lompat kegirangan. sayang aku tidak bisa menemukan orang yang membuatku menunggu berjam-jam. terlalu banyak dan tampak serupa 🙂

malam ini tahun 2018, langit cerah, semua lomba telah dipertandingkan, semua sedang bersiap-siap memeriahkan malam 17-an, mengumumkan para pemenang, kemudian menutupnya dengan karaoke dan hiburan lain. dan aku, aku hanya menuliskan kenangan yang paling aku ingat dari orang-orang yang paling berarti dalam hidupku 🙂

Salam,

 

maya^^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 17, 2018 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , ,

hanya kenangan

mungkin kita takkan pernah tahu bagaimana rasanya jika kita tidak melakukannya, oh ya begitulah peraturannya, kamu bisa saja menggambarkan perasaanmu dengan mengungkapkan sensasi yang kau rasakan, emosi yang muncul, situasi yang terjadi, kesemuanya itu terbungkus dan terperangkap dalam kata-kata lisan atau tulisan, dan kau hanya bisa membayangkannya saja, tapi apa yang tepat terjadi di suatu ketika takkan pernah bisa dirasakan kembali, semuanya itu tersimpan dalam bank memori, hanya untaian kata-kata dalam kisah-kisah dan cerita-cerita sambil menunggu waktu, tak ada satu pun yang bisa kita lakukan untuk benar-benar menghidupkan kembali kenangan, karena tak mungkin kita kembali ke satu masa, waktu berjalan terus, dan setiap detiknya dipenuhi oleh momen-momen yang terlalu beragam dan tak terkontrol, tak bisa diramalkan yang rasanya tidak mungkin terulang untuk kedua kalinya, tak mungkin terjadi lagi, dan tak mungkin kembali, semuanya hanya kenangan, tak lebih dari itu, tak lebih,

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 25, 2011 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , ,

Puisi Favorit

mengamati bintang adalah pekerjaanku setiap malam saat usiaku 8 tahun.

di malam yang sunyi di suatu kompleks angkatan darat di bandung, lampu-lampu memberikan sinar yang temaram. cuaca malam itu tidak dingin, hanya angin yang berbisik pelan. daun-daun di pepohonan menari dengan ringan mengikuti irama alunan angin.

aku merayap pelan turun dari tempat tidurku, mencoba untuk  tidak membangunkan kakak perempuanku. aku buka pintu kamar sedikit-sedikit lalu keluar. di ruang tengah aku pegang kenop pintu belakang, dan memutar kunci, mencoba untuk tidak membangunkan orangtua dan kakak laki-lakiku. bunyi “klik” yang pelan menandakan pintu kini tak terkunci. lancar.

aku keluar rumah, mengendap-ngendap. tak bersandal, kubiarkan kakiku menjejak bumi, merasakan butiran-butiran halus tanah, dan kerikil kecil yang bertebaran di garasi terbuka depan rumahku (^^). segera saja  ku naiki benteng rumah tetangga yang tingginya kurang lebih 2 atau 3 meter, ya sekitar itulah. untuk anak seusiaku, benteng hijau muda itu cukup menjulang tinggi.

hop … hop … aku naiki pagar rumahku, lalu hop … aku duduk diatas benteng hijau itu. rasanya seperti di berada di puncak, tak ada yang lebih tinggi dariku. aku sapa tiang listrik yang kini sejajar denganku, aku ucapkan selamat malam pada pohon yang tak jauh lebih tinggi dariku. ha ha ha senangnya …

haaahhh … saat itu hanya ada aku dan penghuni langit malam. aku masuk menjadi bagian dari langit dan mereka datang menyergapku. langit malam yang cerah tak berawan, bertaburan dengan bintang. selalu berharap untuk bisa meraihnya, menggapainya, tapi tak pernah sampai jangkauan tanganku ini. akhirnya aku hanya tertawa-tawa sendiri melihat kelima jari tanganku dengan latar belakang yang begitu indah. hmm … memang indah seperti ini.

buku catatanku, dimana engkau berada? aku ingin menulis. tapi aku tidak membawa apa-apa malam itu. jadi aku nikmati saja kerlap-kerlipnya bintang yang begitu menggoda. hmmm … cantiknya …

keesokan harinya kutuliskan puisi berjudul “bintang dan bulan”.

***

buku catatan itu kini sudah tidak ada. dan aku menemukan bintang yang baru. aku ciptakan puisi baru tentang bintang. benda langit yang hanya bisa terlihat di malam hari. jauhnya tak terkira namun cahayanya sampai ke bumi. menemani bulan yang kesepian, dengan sinarnya yang tak secemerlang matahari. bintang kecilku yang jauh, teruslah bercahaya, sebagai tanda kau masih ada.

For You Little Star

Little star, why is it so hard for me to get to you?

You’ll be around, when the sky is clear

A dark night sky without the clouds

That’s where I’ll find you

Little star, it’s difficult for me to track you down

You’ll never be in the same place twice

A constellation on the move

Our mother earth that spin around

My life rounding round the globe to find you

Little star, why is it always the same?

Every time I find where you are

You’ll be that little star on the big bluish sky

Sparkling but I can’t catch you

I can’t reach you

I can barely touch you

Little star I can only gaze at you underneath the sky

Lying on the fields of green

Floating on the glass like blue sea

Searching around the world

For a place where you can pour down a little light for me

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 1, 2011 in jurnal, puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: