RSS

Arsip Tag: losion

Kupu-kupu Atau Capung

Seorang gadis memakai gaun merah muda tanpa lengan, memainkan jari-jarinya yang lentik diatas tuts hitam dan putih piano. Entah terbuai oleh musik atau memang keberadaan gadis yang selalu tersenyum, atau seperti untaian kalimat yang terdengar dari seorang narator yang hingga kini keberadaannya hanya sebagai pelengkap mematikan, pancaran sinar putih cantik losion dengan wangi bengkuang itu mungkin bisa jadi penyebabnya.

Tiba-tiba kupu-kupu dengan sayap berwarna kuning bercorak hitam hinggap di bahu si gadis, yang rutin menerima perawatan di rumah cantik losion tadi. Kupu-kupu biasanya hinggap pada bunga dengan warna-warni mencolok penuh dengan nektar, mengembang penuh dengan kesegaran, vitalitas dan berkah di hari yang muda, terbius oleh wangi khasnya.

Apa yang akan kita asosiasikan ketika melihat gadis yang selalu tersenyum tanpa beban dan tampak menikmati hidupnya, disitulah kecantikan dirinya akan terpancar, dan kupu-kupu merepresentasikan sesuatu yang bisa memikat setiap mata yang memandangnya. Keduanya adalah makhluk yang merepresentasikan keindahan alam, sesuatu yang merepresentasikan kemahasempurnaan ciptaan yang maha kuasa dan tak terbantahkan, sesuatu yang mewakili kata cantik, indah, dan kadang membius. Maka semua penonton duduk terdiam, dan ketika si gadis memainkan alunan irama piano, semuanya terbuai dan terpesona menyaksikan betapa agungnya momen tersebut, luar biasa indahnya.

***

Seorang gadis sedang duduk di lantai depan rumahnya, kedua kakinya selonjoran masuk ke kolam ikan yang kini sedang diisi air baru. Kira-kira satu jam yang lalu, dia bersama dengan kakak laki-lakinya membersihkan kolam ikan yang airnya sudah keruh dan dinding kolamnya penuh dengan lumut yang mulai memanjang dan berkibar-kibar oleh riak air.

Pertama-tama air dibuang perlahan-lahan dengan mencabut penutup saluran pembuangan, ikan-ikan yang berperut gendut berwarna kuning keemasan, merah dan hijau kebiruan tak lupa yang keabu-abuan, mulai berkumpul di tempat yang masih penuh dengan air di pojok kolam. Satu persatu keluarga nila, mujair dan oskar pun diangkat dan ditempatkan di ember lebar besar berwarna merah dan dengan segera berdesak-desakkan lah mereka di tempat sempit itu. Setelah seluruh ikan dievakuasi dan air masih sedikit tersisa, kakak beradik itupun mulai menggosok-gosok batu kerikil yang licin dan memenuhi lantai kolam ikan dengan tangan dan kaki mereka.

Dengan bantuan ayah mereka yang menyemprotkan air dari keran melalui selang, mereka dengan suka hati terus melakukan gerakan tadi. Kolam ikan yang temboknya dibentuk seperti batuan alami mulai disiram dengan semburan air dengan kecepatan tinggi untuk menyingkirkan sebagian lumut yang mulai memenuhi pinggirannya dan membuatnya licin.

Suara yang terdengar adalah alunan melodi dari air yang mengalir dari selang atau percikan air ketika ikan meloncat-loncat menyatakan ketidak betahan mereka tinggal di ember plastik, kemudian juga gesekan batuan kerikil dan obrolan ringan antar ayah dan anak-anaknya, tak lupa kodok pun ikut menyumbangkan suaranya yang parau sedang mencari tempat untuk telurnya yang berharga. Menurut pendapat kakak dan ayahnya, mereka harus disingkirkan, maka sang kodok pun harus puas dilemparkan ke selokan.  Dibawah teriknya sinar mentari di musim panas, mereka terus melakukan pekerjaannya.

Setelah semuanya selesai, air perlahan-lahan telah menjadi jernih, saluran pembuangan kembali ditutup, mereka meratakan batu kerikil sebagai lantai kolam ikan. Si gadis menyadari bukan hanya batu kerikil saja yang ada disana, tetapi juga cangkang kerang berbentuk seperti alat tiup berwarna gading bercorak coklat, dan jumlahnya cukup banyak, sambil tersenyum, kedua tangannya dibelakang, dan kaki-kakinya terus bergerak menyapu seluruh kolam ikan. Ketika air mulai memenuhi kolam ikan, maka penghuninya pun dikembalikan.

Ayah dan kakak laki-laki si gadis pun mulai membersihkan diri dan kembali ke rumah, tapi dia lebih suka menunggu hingga air mencapai ketinggian yang cukup dan memutuskan untuk duduk di lantai di depan rumahnya. Kedua kakinya selonjoran masuk ke kolam ikan yang kini mulai dipenuhi air baru, dia terus menggerak-gerakkan dengan ringan kakinya yang membelah air dan membuat riak-riak kecil di sekitarnya, telapak kakinya bersentuhan dengan lantai batu kerikil yang kasar dan tidak merata.

Badannya kini berbau sedikit amis setelah bergaul dengan ikan dan lumut, dan kemudian dia terdiam dan memandangi ikan-ikan yang berenang-renang bebas dan kini mulai mendekati kakinya dan salah satu ikan itu mencium jari si gadis dengan bibirnya yang licin, si gadis pun tertawa geli. Capung yang terbang tinggi rendah dan menyisir permukaan kolam, menimbulkan satu garis beriak di sekitarnya berbentuk seperti tulang ikan. kemudian terbang kembali, hinggap sebentar di dedaunan pohon jeruk nipis yang masih mungil, lalu terbang kembali melintasi kolam ikan dan dengan pasti hinggap di pundak si gadis yang memakai kaos oblong putih dan basah oleh keringat.

Sejenak si gadis merasakan sensasi aneh dalam dirinya, perasaan yang muncul ketika makhluk yang tidak jinak dan tidak di kenal tiba-tiba datang menghampiri dan dengan bebasnya menyentuh kita, seperti sesuatu yang ilahi sedang terjadi, mungkin sedikit … sedikit sekali berasa seperti Nabi Sulaiman. Meskipun tidak sampai ngobrol (^^), itu benar- benar menyenangkan.

Alam selalu memperhatikan tanpa banyak tingkah tanpa banyak omong, dan ketika capung hijau bermata banyak itu diam di pundaknya. Walau hanya beberapa detik dia mengistirahatkan tubuhnya yang panjang dan sayap transparannya yang kuat, si gadis sadar, keberadaannya disadari oleh alam. Setelah melakukan sedikit peran pembantu dengan penuh suka cita, sebagai seorang manusia yang membersihkan kolam ikan, sebagai manusia yang menjaga keindahan alam yang hanya sebatas seluas kolam ikan di rumahnya.

mungkin hanya mungkin begitulah cara mereka menyatakan rasa terima kasihnya, berbagi satu momen tak terlupakan ketika mereka menyentuhmu dengan ikhlas, rasakan lah keberadaan mereka di sekeliling kita, dan ketahuilah mereka sama layaknya dengan kita untuk menikmati keindahan ciptaan yang maha kuasa yang tak terbantahkan ini, alam, semua makhluk hidupnya, tumbuhan, binatang dan manusia. Angin yang bertiup lembut, awan yang berarak pelan, dan daun pepohonan yang menari-nari.

Nah ini bukanlah gambaran dari adegan sebuah iklan pakan ikan, cairan pembersih kolam, perusahaan air, atau iklan layanan masyarakat tentang keluarga atau menjaga kelestarian alam, apalagi iklan losion pemutih kulit, atau bahkan sabun anti kuman, bukan salah satu dari itu, bahkan tidak mendekati salah satu yang disebutkan di atas.

Hanya sebuah gambaran salah satu episode seorang gadis yang mendapatkan kesempatan langka untuk disapa oleh ikan peliharaan keluarga yang berlendir, licin dan berbau amis tak lupa seekor capung pengembara – walau penampilan nya tak membius seperti kupu-kupu – yang kehausan setelah berkelana entah dari mana, dan tak ada satupun manusia yang menyaksikan momen itu.

Dunia yang dipadati oleh manusia banyak mengatakan apa yang bagus buat kita, tapi mereka tidak mengatakan apakah itu baik untuk kita, setiap orang ingin dinilai cantik oleh orang lain dan itu wajar, setiap manusia selalu menginginkan penghargaan, tapi ingat penghargaan itu datang setelah kita bekerja keras melakukannya dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan penghargaan itu sendiri, dan jika kau melakukannya berarti kau berhasil menjadi manusia yang layak di hinggapi oleh makhluk alam yang setiap harinya selalu dengan sepenuh hati bekerja sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan oleh yang maha kuasa, tanpa banyak tingkah dan tanpa banyak omong, bukan sekadar rutin mengoleskan losion pemutih di tubuh kita saja, butuh kerja keras didalamnya, melakukannya dengan sepenuh hati berarti juga memikirkan betul-betul apa yang terjadi di sekeliling kita, sadarilah bahwa apapun yang kau lakukan di dunia ini, its not about what people think, its about how you feel deep inside your heart.

Oh iya satu hal lagi, salah satu kebiasaan kupu-kupu adalah mereka kadang-kadang hinggap di manusia, karena tertarik dengan garam pada keringat kita. Kupu-kupu juga tahu bau asli kita seperti apa ^^, definitely  no need any lotion, berkeringat saja sebanyak-banyak nya haha …

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 19, 2011 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: