RSS

Arsip Tag: for

For My Beloved Teachers

my beloved teacher would tweak or pull my ears quite hard, and it hurts, cause i wont sit still and go outside the classroom playing around during study time ^^  …

my beloved teacher told me to cut my hair, cause my hairdo is like, he said, a devil’s companion ^^ …

my beloved teacher told me to shush my mouth, cause i made silly joke about geography during her explanation =p …

my beloved teacher told me to stop kicking off the dirt in the field during the ceremony =D…

my beloved teacher told me to stay until the class is finished to clean the whiteboard and scold me in front of my friends cause i made silly mistake using the wrong board marker … doh! …

but my beloved teacher also told me that discipline is needed to keep us on the right track. they also told me that we need to respect each other in order to respect our self too. they told me to be precise, doing what you’d love to do and be responsible at the same time. they told me to share what we’ve got with others, take the benefit by sharing, and make my self useful in this whole wide world.

and here i am now, not knowing if i’m already lived my life the way they’ve told me to. am i being such a good person? cause sometimes i just simply forget what they’ve told me =p … and on this day i just remember that i should be grateful to know each and every one of them, guiding me always with their wisdom, their words are always there in my heart, inside of me, saved in my bank of memory, all i need to do is just simply recall it, or read this thing right here again and again 🙂

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 24, 2018 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Puisi Favorit

mengamati bintang adalah pekerjaanku setiap malam saat usiaku 8 tahun.

di malam yang sunyi di suatu kompleks angkatan darat di bandung, lampu-lampu memberikan sinar yang temaram. cuaca malam itu tidak dingin, hanya angin yang berbisik pelan. daun-daun di pepohonan menari dengan ringan mengikuti irama alunan angin.

aku merayap pelan turun dari tempat tidurku, mencoba untuk  tidak membangunkan kakak perempuanku. aku buka pintu kamar sedikit-sedikit lalu keluar. di ruang tengah aku pegang kenop pintu belakang, dan memutar kunci, mencoba untuk tidak membangunkan orangtua dan kakak laki-lakiku. bunyi “klik” yang pelan menandakan pintu kini tak terkunci. lancar.

aku keluar rumah, mengendap-ngendap. tak bersandal, kubiarkan kakiku menjejak bumi, merasakan butiran-butiran halus tanah, dan kerikil kecil yang bertebaran di garasi terbuka depan rumahku (^^). segera saja  ku naiki benteng rumah tetangga yang tingginya kurang lebih 2 atau 3 meter, ya sekitar itulah. untuk anak seusiaku, benteng hijau muda itu cukup menjulang tinggi.

hop … hop … aku naiki pagar rumahku, lalu hop … aku duduk diatas benteng hijau itu. rasanya seperti di berada di puncak, tak ada yang lebih tinggi dariku. aku sapa tiang listrik yang kini sejajar denganku, aku ucapkan selamat malam pada pohon yang tak jauh lebih tinggi dariku. ha ha ha senangnya …

haaahhh … saat itu hanya ada aku dan penghuni langit malam. aku masuk menjadi bagian dari langit dan mereka datang menyergapku. langit malam yang cerah tak berawan, bertaburan dengan bintang. selalu berharap untuk bisa meraihnya, menggapainya, tapi tak pernah sampai jangkauan tanganku ini. akhirnya aku hanya tertawa-tawa sendiri melihat kelima jari tanganku dengan latar belakang yang begitu indah. hmm … memang indah seperti ini.

buku catatanku, dimana engkau berada? aku ingin menulis. tapi aku tidak membawa apa-apa malam itu. jadi aku nikmati saja kerlap-kerlipnya bintang yang begitu menggoda. hmmm … cantiknya …

keesokan harinya kutuliskan puisi berjudul “bintang dan bulan”.

***

buku catatan itu kini sudah tidak ada. dan aku menemukan bintang yang baru. aku ciptakan puisi baru tentang bintang. benda langit yang hanya bisa terlihat di malam hari. jauhnya tak terkira namun cahayanya sampai ke bumi. menemani bulan yang kesepian, dengan sinarnya yang tak secemerlang matahari. bintang kecilku yang jauh, teruslah bercahaya, sebagai tanda kau masih ada.

For You Little Star

Little star, why is it so hard for me to get to you?

You’ll be around, when the sky is clear

A dark night sky without the clouds

That’s where I’ll find you

Little star, it’s difficult for me to track you down

You’ll never be in the same place twice

A constellation on the move

Our mother earth that spin around

My life rounding round the globe to find you

Little star, why is it always the same?

Every time I find where you are

You’ll be that little star on the big bluish sky

Sparkling but I can’t catch you

I can’t reach you

I can barely touch you

Little star I can only gaze at you underneath the sky

Lying on the fields of green

Floating on the glass like blue sea

Searching around the world

For a place where you can pour down a little light for me

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 1, 2011 in jurnal, puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: