RSS

Arsip Tag: childhood memory

Puisi Favorit

mengamati bintang adalah pekerjaanku setiap malam saat usiaku 8 tahun.

di malam yang sunyi di suatu kompleks angkatan darat di bandung, lampu-lampu memberikan sinar yang temaram. cuaca malam itu tidak dingin, hanya angin yang berbisik pelan. daun-daun di pepohonan menari dengan ringan mengikuti irama alunan angin.

aku merayap pelan turun dari tempat tidurku, mencoba untuk  tidak membangunkan kakak perempuanku. aku buka pintu kamar sedikit-sedikit lalu keluar. di ruang tengah aku pegang kenop pintu belakang, dan memutar kunci, mencoba untuk tidak membangunkan orangtua dan kakak laki-lakiku. bunyi “klik” yang pelan menandakan pintu kini tak terkunci. lancar.

aku keluar rumah, mengendap-ngendap. tak bersandal, kubiarkan kakiku menjejak bumi, merasakan butiran-butiran halus tanah, dan kerikil kecil yang bertebaran di garasi terbuka depan rumahku (^^). segera saja  ku naiki benteng rumah tetangga yang tingginya kurang lebih 2 atau 3 meter, ya sekitar itulah. untuk anak seusiaku, benteng hijau muda itu cukup menjulang tinggi.

hop … hop … aku naiki pagar rumahku, lalu hop … aku duduk diatas benteng hijau itu. rasanya seperti di berada di puncak, tak ada yang lebih tinggi dariku. aku sapa tiang listrik yang kini sejajar denganku, aku ucapkan selamat malam pada pohon yang tak jauh lebih tinggi dariku. ha ha ha senangnya …

haaahhh … saat itu hanya ada aku dan penghuni langit malam. aku masuk menjadi bagian dari langit dan mereka datang menyergapku. langit malam yang cerah tak berawan, bertaburan dengan bintang. selalu berharap untuk bisa meraihnya, menggapainya, tapi tak pernah sampai jangkauan tanganku ini. akhirnya aku hanya tertawa-tawa sendiri melihat kelima jari tanganku dengan latar belakang yang begitu indah. hmm … memang indah seperti ini.

buku catatanku, dimana engkau berada? aku ingin menulis. tapi aku tidak membawa apa-apa malam itu. jadi aku nikmati saja kerlap-kerlipnya bintang yang begitu menggoda. hmmm … cantiknya …

keesokan harinya kutuliskan puisi berjudul “bintang dan bulan”.

***

buku catatan itu kini sudah tidak ada. dan aku menemukan bintang yang baru. aku ciptakan puisi baru tentang bintang. benda langit yang hanya bisa terlihat di malam hari. jauhnya tak terkira namun cahayanya sampai ke bumi. menemani bulan yang kesepian, dengan sinarnya yang tak secemerlang matahari. bintang kecilku yang jauh, teruslah bercahaya, sebagai tanda kau masih ada.

For You Little Star

Little star, why is it so hard for me to get to you?

You’ll be around, when the sky is clear

A dark night sky without the clouds

That’s where I’ll find you

Little star, it’s difficult for me to track you down

You’ll never be in the same place twice

A constellation on the move

Our mother earth that spin around

My life rounding round the globe to find you

Little star, why is it always the same?

Every time I find where you are

You’ll be that little star on the big bluish sky

Sparkling but I can’t catch you

I can’t reach you

I can barely touch you

Little star I can only gaze at you underneath the sky

Lying on the fields of green

Floating on the glass like blue sea

Searching around the world

For a place where you can pour down a little light for me

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 1, 2011 in jurnal, puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

Kamana atuh Kamana?

teringat suatu masa ketika ebtanas kelas 6 sd. aku harus membawakan lagu sunda dalam pelajaran kesenian. lalu ibuku menyarankan lagu ini. saat itu aku tidak terlalu ‘ngeh’ dengan maknanya, yang penting nadanya enakeun! ^^ aku ingat bahkan guru ku tercinta kurang familiar dengan lagunya, tapi ketika dia mendengarkan nadanya, terdengar suara pelan keluar dari mulutnya “ooo …” nah, apalagi teman-teman sd ku, mereka bahkan tidak tahu lagu itu ada ^^

 

sekarang aku harus menempuh sebuah tes lagi … yang mengharuskan dan memang tidak ada yang lain yang aku bisa selain menyanyi. maka aku teringat nasihat ibuku waktu itu. nadanya mudah diingat dan liriknya pendek, meski aku sudah lupa. aku tidak tahu judulnya, yang aku ingat adalah lirik pertamanya saja “kamana panutan abdi”. maka aku mencari audio dan liriknya. ternyata tidak sulit. dan ternyata lagi, lagunya lagu patah hati.

 

“kamana panutan abdi

nu sok biasa sumping

kamana panutan rasa

anu sok sering ngariksa

 

tara tara tisasari

abdi ngaraos sepi

teu kinten abdi sonona

tos lami teu patepang

 

ieu abdi leungiteun

mondok sok tara tibra

ieu abdi leungiteun

neda tara mirasa”

 

aku tidak menyangka lagu yang pernah kubawakan dulu, menjadi sangat berarti saat ini. aku bahkan tidak terlalu paham dengan liriknya dulu, yang penting nyanyi dan dapat nilai, tapi yang jelas akan sangat berbeda dengan sekarang. apa yang tersimpan dalam bank memori kita mungkin suatu saat akan muncul kembali dan ketika kita mengingatnya dengan baik, ada suatu pelajaran yang tersembunyi di dalamnya. dulu bab itu masih tersembunyi dan kini saatnya untuk mempelajari bab tersebut. dulu mungkin sama sekali tak ada artinya, tapi kini, lambat laun kita sendiri akan menyadari ada berjuta makna yang tersimpan di dalamnya.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2011 in jurnal, musik, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: