RSS

Arsip Tag: catatan

17 Agustus

hari ini 73 tahun yang lalu Indonesia merdeka, tapi buatku bulan Agustus adalah bulan yang penuh dengan kenangan setiap tahunnya.

bulan ini diisi dengan perayaan ulang tahun beberapa anggota keluargaku, alm. mamah, teteh, dua tante ku, keponakan, dan dua kakak ipar, mungkin akan bertambah lagi jika aku mendata setiap anggota keluarga dari yang paling senior hingga yang baru lahir hahaha … dan itu akan sangat menyenangkan 😀

malam ini tahun 1995, aku ingat makan kelepon, makanan tradisional seperti bola dan berwarna hijau pas untuk sekali suap, di balut kelapa parut, dan ketika digigit, gula merah cair meledak dan meleleh dalam mulutmu, manis … manis … manis … Yah seharusnya begitu, tapi di hari itu aku memilih untuk mengigitnya di luar mulut, dan cairan coklat mengkilat itupun menyembur dengan tepat sekali di muka almarhum kakak pertama ku ;D … maaf … maaf … maaf …

sore itu tahun 1997, aku menunggu di dalam mobil yang terparkir di komplek perkantoran. menunggu anggota paskibra yang telah menyelesaikan tugasnya menurunkan bendera merah putih. mereka terus berjalan dan berbaris dengan rapih sampai tempat parkir itu, yang letaknya sudah lumayan jauh dari lapangan tempat upacara diadakan. kemudian ketika selesai mereka bersorak dan beberapa diantaranya melompat-lompat kegirangan. sayang aku tidak bisa menemukan orang yang membuatku menunggu berjam-jam. terlalu banyak dan tampak serupa 🙂

malam ini tahun 2018, langit cerah, semua lomba telah dipertandingkan, semua sedang bersiap-siap memeriahkan malam 17-an, mengumumkan para pemenang, kemudian menutupnya dengan karaoke dan hiburan lain. dan aku, aku hanya menuliskan kenangan yang paling aku ingat dari orang-orang yang paling berarti dalam hidupku 🙂

Salam,

 

maya^^

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 17, 2018 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , ,

no more high heels shoes please

no more high heels shoes please,

yeah setidaknya buatku hehe …

malam ini aku baru saja melepaskan kuku kelingking kaki kanan ku yang mati dan lepas dari tempatnya. Aku baru menyadari ternyata ukurannya lebih kecil dari pada kuku kelingking tangan ku, yang memang sudah terkenal kecil. Kalau dibandingkan, dengan orang-orang di sekitarku,  mungkin sama seperti kuku anak-anak. Yaah, kira-kira panjangnya 1 cm dan tingginya sekitar 0.3 inchi. Terbayang? Warnanya tidak bening tentu saja, karena dia mati, putih dan agak kusam, tapi tidak berbau tentu saja, karena dia tidak membusuk.

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa mati lalu terlepas dari tempatnya.

Tapi beberapa bulan sebelumnya, kelingking kaki kanan ku menghitam setelah aku menggunakan sepatu hak tinggi. Hari itu aku berlari bolak balik sepanjang koridor yang mengelilingi sebuah ballroom di sebuah hotel. Berjalan cepat-cepat dari ujung ke ujung ballroom. Melangkah lebar-lebar, kadang pendek, dan melompat sedikit, untuk menghindari kabel-kabel yang melata dan meliuk-liuk di lantai ballroom yang berkarpet motif bunga-bunga nan empuk itu. Dengan sigap aku mengerem tepat pada waktunya sebelum aku tersandung jalinan kabel. Hehe … profesional dan elegan sekali, yaah setidaknya menurutku.

Aku merasa sangat tinggi tentu saja, dan hmm … anehnya lebih percaya diri. Padahal sepatu kulit hak tinggi berwarna coklat dengan motif kulit salah satu binatang liar itu adalah sepatu pinjaman. Bukan milikku tapi milik orang lain. Efek yang buatku cukup menakjubkan. Mengapa kita harus bangga pada sesuatu yang bukan milik kita?

Selama setengah hari itu, kaki ku tersiksa, but the show must go on. Ya! Perjuangan memakai sepatu hak tinggi selama (hee…) tiga jam adalah tentang kakiku versus hak tinggi. Aku takkan pernah terbiasa dengannya. Selama masih bisa berdiri, berjalan dan berlari, maka berdiri, berjalan dan berlari-lah aku sepanjang acara itu. Dan ketika semuanya selesai, aku mengucap syukur Alhamdulillah dengan melepaskan sepatu itu dari kakiku, perlahan-lahan.

Aku rasa kaki kiriku tidak apa-apa, ya mereka baik-baik saja. Tapi kaki kananku, selain menderita kapalan yang tingkat kecenangannya (hehe … bahasa indonesianya apa ya?!?) cukup mengkhawatirkan, kelingking ku juga menghitam dan agak sakit. Jangankan ditekan, dibiarkan begitu saja, terasa nyut-nyut-an nya. Hari itu jari-jari kaki ku menahan beban yang berat sekali. Dan mungkin kelingking kaki kanan ku tidak cukup tahan dengan cobaan yang menghadangnya di hari itu.

Tidak cukup hanya di kaki, cobaan itu datang menghadang, tapi juga pada my pride (wuiiih…). Seorang teman wanita yang terbiasa dengan hak tinggi berkata, “emh atuh, kaki orang udik,”. Aku hanya tersenyum, kaki boleh udik, tapi otak … ga pa pa sedikit udik juga hehe… Hey! Kita harus mempertahankan kepolosan seorang udik. Tanpanya, dunia akan kehilangan salah satu warnanya yang mencolok, yaah setidaknya menurutku.

Lagipula, ini menurutku lho, yaah hanya sebuah pikiran remeh temeh, mengapa wanita memakai sepatu hak tinggi? Mungkin, hanya mungkin, mereka tidak mau diremehkan oleh kaum pria. Namanya kan ‘hak tinggi’, kenapa bukan ‘tumit tinggi’?

Ya, karena hak dalam pengertian sesuatu yang semestinya diperoleh, harus sama tingginya dengan kaum pria, atau sejajar. Meskipun jika mereka harus menjalaninya dengan melewati sejumlah penderitaan. Seperti sakit di bagian kaki, pegal-pegal di seluruh badan kemudian, dan jangan lupa kram ketika malam tiba. Tapi demi kesetaraan, atau mungkin hanya sekadar untuk disadari keberadaannya, wanita oh wanita mau melakukan apa pun juga untuk mencapainya.

Hhm … rasanya aku melenceng cukup jauh. Setelah beberapa hari kemarin, keadaan kelingking kaki kanan ku cukup menggembirakan, karena warna hitamnya sedikit demi sedikit memudar. Aku agak kaget ketika membersihkannya, kuku itu tiba-tiba terlepas sebagian, tapi masih menempel di ujung atas sebelah kirinya. Selama berhari-hari aku biarkan saja, karena aku takut, jika dipaksa dicabut akan berdarah. Tapi malam ini, kuputuskan, semua ini harus ku selesaikan, aku harus menuntaskan segalanya malam ini. Jangan ada yang tersisa.

Tanganku yang suka berkeringat, semakin bertambah basah. Ku cabut pelan-pelan, rasanya seperti menyobek sesuatu yang sedikit alot, tapi mudah sekali. Tak ada darah yang menetes malam ini. dan terlepas sudah kuku kelingking kaki kanan ku yang mati itu.

Saat ini kelingking kaki kanan ku baik-baik saja, warnanya merah muda dan merona segar, dan lapisan terluarnya masih belum sekeras kuku tetangganya, tapi aku yakin, dia pasti akan baik-baik saja. Selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa yang akan segera tiba, yang pasti akan lebih menjanjikan dan penuh harapan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 25, 2010 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: