RSS

Arsip Kategori: resensi

Nov 5

 “Remember, remember the fifth of November of gunpowder treason and plot. I know of no reason why the gun powder treason should ever be forgot.”

Setiap tanggal 5 datang terutama di bulan ini, suara Natalie Portman langsung bergaung dalam ruang berkubah di kepalaku. Ya, hingga hari ini tidak bisa melupakan suara melankolis itu. Beberapa tahun yang lalu secuil informasi datang mengabarkan, sebuah film dibuat berdasarkan buku seri komik, graphic novel yang berjudul sama. Singkatnya membaca cerita bergambar adalah salah satu hobi, dan menonton adalah yang lainnya. Jadi keputusan untuk menyewa DVD berjudul sederhana V for Vendetta, adalah sebuah kewajiban yang dinikmati.

Suara karismatik Hugo Weaving memberikan nafas pada tokoh anarkis yang dipanggil dengan sebutan “V”. Dia tidak bisa lepas dari topeng Guy Fawkes, yang mungkin saja merupakan teladannya untuk melawan pemerintahan Inggris di masa depan. Kata-kata yang menggugah emosi, meruncingkan otak yang tumpul, membangunkan sesosok makhluk di dalam diri setiap yang tersentuh, menyadarkan mereka akan kemampuan kita untuk berbuat sesuatu, itu yang saya dapatkan ketika mengikuti kisah dalam film ini.

Dipenuhi dengan karakter-karakter yang kuat, baik yang antagonis maupun protagonis. Salah satu alasan, menurut saya, yang membuatnya padat dengan pesan dan disampaikan dengan baik sekali. Merombak pola pikir kita dengan memberikan gambaran simbol-simbol segala sesuatu yang diasosiasikan dengan kebaikan belum tentu bertindak benar. Keseragaman merupakan sesuatu yang membosankan. Tidak lagi hidup karena manusia sendirilah yang melenyapkan warna warni kehidupan itu.

Rumit tapi indah, itulah yang ditawarkan, kurang lebih seperti apa yang kita coba jalani dalam hidup ini. V meninggalkan kesan yang mendalam, karena kita hanya disodorkan seseorang yang selalu memakai topeng. Meskipun terlukis dengan lengkungan senyum tapi matanya yang kosong membuatnya tetap dingin dan tanpa ekspresi, misterius dan susah diterka. Namun ada suasana keagungan dan kekuatan yang seperti api abadi, sulit untuk  dipadamkan.

Masa lalu yang begitu traumatis melahirkan sosok baru yaitu V. Sejak saat itu tujuannya hanya satu, menciptakan kekacauan. Agendanya yaitu membalas dendam pada para penangkapnya, dan menggulingkan pemerintahan yang berkuasa saat itu. Kalimat tadi membuatnya seolah-olah mudah, tapi kita tahu, tidak akan segampang itu. Memang butuh tokoh yang karismatik dan menginspirasi untuk menggerakkan seluruh orang agar bertindak. Dan itu harus dibayar sangat mahal oleh V.

Saya menyukai semua hal dalam film ini 😁, kecuali bagian-bagian yang berdarah, itu agak sedikit membuat mual 😖. Dan puisi The Fifth of November, yang menjiwai cerita ini,  menjadi sebuah mantra yang dirapalkan Portman, “remember … remember … “, yep saya rasa itu yang menghipnotis saya untuk selalu ingat 😉

Sejak saat itu saya jadi tahu topeng yang selalu muncul dalam aksi demonstrasi, ternyata penggambaran dari seorang Guy Fawkes. Tanggal ini menjadi hari yang diperingati oleh masyarakat Inggris Raya, justru karena kegagalan konspirasi dari komplotan Fawkes. Meskipun demikian dia menjadi simbol abadi dari perlawanan, atau dengan kata lain melakukan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.  Dan seperti yang disampaikan dengan indah sekali oleh penulis asli bukunya, Alan Moore mengenai sebuah gagasan, ialah ia tidak bisa mati.

“We are told to remember the idea and not the man.

Because a man can fail.

He can be caught, he can be killed and forgotten.

But 400 years later, an idea can still change the world.

I have witnessed firsthand the power of ideas.

I’ve seen people kill in the name of them.

But you cannot kiss an idea… cannot touch it or hold it.

Ideas do not bleed.

They do not feel pain.

They do not love.

And it is not an idea that I miss.

It is a man.

A man that made me remember the 5th of November.

A man that I will never forget.” 

― Alan Moore, V for Vendetta

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 6, 2018 in jurnal, remeh temeh, resensi

 

Tag: , , , , , , , , ,

Semiotika dari A sampai Z

Judul Buku : Pesan, Tanda, dan Makna: Buku Teks Dasar Mengenai Semiotika dan Teori Komunikasi

Penulis : Marcel Danesi

Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta

Hal : 528 + xii

Cetakan : I, Februari 2010

ISBN : 978-602-8252-12-6

Semiotika dari A sampai Z

 Jika anda masih penasaran dengan mahluk yang bernama semiotika, maka baca buku ini. Bahkan jika anda baru saja membaca atau mendengar istilah yang berbunyi semiotika dalam tulisan ini, maka buku ini adalah pilihan tepat buat anda. Marcel Danesi, sang Profesor akan mengajak anda untuk bersenang-senang bergaul dengan semiotika. Perkenalan awal yang baik ditunjukkan dengan judul buku yang mengena, karena semiotika pada dasarnya menyangkut pesan, tanda dan makna. Tampak sederhana bukan?

Meski demikian bahasan semiotika yang mendalam akan membawa anda untuk menelisik sudut-sudut baru wawasan anda mengenai dunia. Melihat segalanya dengan sudut pandang yang berbeda, melebar juga meluas, kadang anda tidak tahu kapan untuk berhenti. Dan semuanya itu dimulai dari sebuah tanda. Maka tidak salah jika Danesi memulai bagian pertamanya dengan pembahasan mengenai tanda.

Di bagian ini, anda akan mengangguk-angguk paham ketika Danesi memaparkan apa itu semiotika dari hal yang paling mendasar, tentu saja tanda. Memasuki bagian kedua, Danesi akan membawa anda untuk menyelami apa yang ada di balik sebuah tanda. Topik yang dibahas mengenai pesan dan makna bertujuan untuk menggambarkan cara pembuatan pesan dan pembuatan makna dapat dipelajari dari sudut pandang tertentu dari disiplin ilmu semiotika.

Tulisannya mengalir dan penjelasannya logis sehingga mudah diikuti. Danesi memang sengaja melakukan pendekatan khusus, seolah-olah dia ikut hadir memberikan kuliah yang mengkaji semiotika, komunikasi, media dan budaya. Didalamnya anda akan menemukan penjelasan dan gambaran permasalahan yang bersifat teknis dan yang sering membingungkan mengenai bidang mengagumkan yang terkait secara praktis dengan berbagai penerapan budaya kontemporer.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 19, 2018 in resensi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Resensi Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Jilid 1)

Judul : Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Jilid 1)

Editor : Pamusuk Eneste

Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta

Hal : xiv + 258 halaman

Cetakan : Pertama, Juni 2009

ISBN : 978-979-91-0185-3

Warisan Abadi Sastrawan Indonesia

Lebih dari seperempat abad yang lalu buah pikiran 12 penulis terkemuka Indonesia dituangkan dalam sebuah buku. Tepatnya 27 tahun yang lalu mereka semua berbagi pengalaman bagaimana mereka mengarang. Buku yang pertama kali diterbitkan oleh PT Gramedia pada tahun 1984 ini, kembali dikeluarkan untuk menginspirasi dan memotivasi generasi muda saat ini, terutama bagi mereka yang tertarik ke dalam dunia kepenulisan.

Dari ke-12 penulis yang mengisahkan proses kreatif dalam buku ini, empat sastrawan diantaranya sudah mendahului kita, yaitu Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), Umar Kayam (1932-2002), Satyagraha Hoerip (1934-1998), dan Nasjah Djamin (1924-1997). Beruntung sekali kita bisa mengikuti kisah mereka yang begitu menggugah melalui tulisan singkat yang ada dalam buku ini. Tulisan yang menurut editornya yaitu Pamusuk Eneste, adalah ‘pengakuan abadi’ dari seniman yang karya-karyanya menghiasi khasanah sastra Indonesia.

Dalam semua tulisan di buku ini, anda tidak akan menemukan saran-saran teknik yang berkaitan dengan teori sastra mengenai suatu karya tulis, melainkan cerita dibalik sebuah cerita. Sehingga ketika Nasjah Djamin menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana, beliau hanya mengingat masa kecilnya dengan mengisahkan Si Tambi dan Si Buyung Ketek. Kedua orang inilah yang menginspirasi Nasjah untuk menjadi seorang penulis sekaligus pelukis.

Adalah sebuah proses alami mengapa kita menjadi apa yang kita jalani saat ini. Menurutnya, kita semua tercampak ke bidang hidup atau jalan hidup tanpa dikehendaki yang kemudian harus bergelut dengannya selama hidup kita. Sebuah kekuatan diluar kuasa kita telah menyiapkan seseorang menjadi apa yang dia jalani. Masa kecil dan masa remaja adalah proses pematangan, dengan mengalami pengembaraan ke sudut-sudut kehidupan, baik lahir dan batin.

Senada dengan Gerson Poyk yang mengatakan proses kreatif adalah suatu proses yang mulai kelihatan sejak kecil, sejak kesadaran pertama. Pengalaman dan bakat menjadi kunci yang memegang peranan penting dalam proses tadi. Pengalaman akan bertambah sebanding dengan usia, dan bakat pun akan terus berkembang jika kita berada di lingkungan yang ikut mendukung pertumbuhan kreativitas.

Pengalaman lahir dan batin Pramoedya Ananta Toer dimasa peperangan telah mengarahkan beliau pada penulisan novel Perburuan dan Keluarga Gerilya. Masa kecil yang dipenuhi teror penjajahan Jepang, dan ketika beliau berada di balik jeruji penjara, begitu mempengaruhi karya tulisnya. Pramoedya mengatakan manusia itu kaya akan data dan informasi yang dihimpun melalui pengalaman indrawi, nalar dan perasaan. Oleh karena itu, setiap pribadi mempunyai peluang untuk berkreasi. Tidak salah jika proses kreatif bagi seorang Pramoedya adalah pengalaman pribadi yang sangat pribadi sifatnya.

Seorang penulis bergerak menurut kata hati, ujar Umar Kayam. Proses terjadinya sebuah penulisan tidak bisa dijelaskan lewat satu penalaran rasional. Jika seorang penulis mengahadapi sebuah kemacetan maka itu sama lumrahnya ketika dia dalam kondisi subur. Masih menurut Umar, ternyata menulis adalah masalah kemauan yang pribadi sekali dan masalah determinasi. Pramoedya pun menambahkan beberapa faktor pribadi yang harus dimiliki setiap penulis, yaitu mental keberanian, kemauan, disiplin, keyakinan, tanggung jawab, dan kesadaran atau membuat sesuatu tanpa diperintah.

Penulis harus mampu berdiri sendiri, ketika data informasi menenggelamkan dirinya bagai lautan. Saat itulah dua makhluk saling mencari titik temu. Sitor Situmorang menggambarkannya dengan sangat indah, ketika si penyair bekerja dalam keadaan yang hampir mendekati trance, ilham pun akan mencari, meminta bentuk dan ia menemukannya lewat penulisan. Satyagraha Hoerip menyebutnya sebagai saat-saat khusus, yaitu saat-saat yang tidak berketentuan rentang waktunya, saat-saat ketika penulis berada dalam keadaan melayang-layang antara sadar dan tidak, meramu unsur realitas dan khayalan.

Sementara Danarto menggambarkannya sebagai jelmaan ruang dan waktu, yaitu ketika seorang penulis menjelma dalam ruang dan waktu yang hanya ada dalam pikirannya sendiri. Saat itulah ketika penulis baru bisa menuliskan segala sesuatu yang berkaitan dengan jelmaan ruang-waktu itu. Penulis akan berinteraksi dengan kata- kata dan menyusun kalimat-kalimat. Biarkanlah rangkaian kalimat itu mengalir dengan deras.

Mungkin inilah yang disebut sebagai ilham sejati. Abdul Hadi W.M. menjelaskan ilham sejati yaitu ilham yang mampu menggerakkan tubuh, jiwa, pikiran, perasaan dan intuisi sekaligus. Karya tulis seseorang menggabungkan pengalaman sosial dan pengalaman batin yang menuntut kita untuk berpikir dan menghayati hidup secara aktif sehingga dapat berfungsi untuk menemukan dan memahami kebenaran.

Berbeda dengan Hamsad Rangkuti yang secara gamblang mengaku sebagai pelamun yang parah. Melamun adalah kebiasaan seorang Hamsad yang kemudian ia curahkan menjadi sebuah karya tulis. Tapi ide, ilham atau lamunan saja tidak cukup bagi Ramsad. Bahkan seorang pemimpi membutuhkan teknik untuk merasionalkan khayalannya. Meskipun banyak orang yang mengatakan teknik hanya untuk para pemula, dan teknik dipelajari untuk dilupakan. Tapi teknik adalah juru selamat Ramsad. Teknik membuat Ramsad menjadi produktif. Teknik akan berguna dan bermanfaat bagi setiap penulis yang belum bisa mencapai keadaan trance.

Sementara seorang Sori Siregar merasa dia hanya ingin berdialog. Menulis bagi Sori adalah sebuah alat untuk berdialog tentang pengalaman, perasaan duka cita kegembiraan. Juga untuk berkomunikasi, mengutarakan pikiran, pendapat, protes atau kebencian. Sori tidak mempercayai pada apa yang disebut ilham, beliau lebih cenderung menyebutnya dengan sentuhan pengamatan.

Sama halnya dengan M. Poppy Donggo Huta Galung, penulis sajak dan cerita anak ini tidak membutuhkan sebuah perencanaan yang matang untuk menulis. Fokuskan saja pada apa yang akan anda tulis. Teori mengarang hanya akan membuat bingung dan akhirnya malah tidak bisa menulis. Sehingga Poppy memutuskan untuk menjadi seorang ‘pengarang liar’, yang menulis sesuai dengan kemauannya sendiri. Poppy yakin jika seorang penerbit mau menerbitkan tulisannya, itu berarti karya tersebut memang layak dan dapat dipertangungjawabkan.

Proses kreatif setiap penulis yang ada dalam buku ini merupakan kisah yang menarik untuk diikuti. Kita akan melihat bagaimana situasi dan kondisi budaya, politik, sosial akan melatarbelakangi setiap penciptaan. Anda akan mendapatkan lebih dari sekadar cerita dibalik pembuatan sebuah karya tulis. Bagai memperoleh sebuah pencerahan, selain mendapat pengetahuan kita akan lebih termotivasi tidak hanya untuk menulis tapi juga untuk hidup lebih berarti lagi.

Anda akan menikmati setiap halaman demi halaman yang tertata apik. Hanya saja untuk pembaca generasi muda yang tidak terlalu hapal dengan ke-12 sastrawan, akan bertanya-tanya seperti apakah mereka semua. Biografi singkat saja tidak cukup apalagi tidak dibarengi dengan foto. Mereka semua adalah nama-nama besar dalam dunia sastra Indonesia, sebagai generasi muda penerus kita wajib mengenal mereka lebih dalam lagi.

Buku klasik ini memang khusus ditujukan untuk masa sekarang. Lihat saja sampul buku yang menggunakan mouse komputer sebagai pengganti huruf ‘o’ dalam kata ‘proses’. Kabelnya yang panjang meliuk-liuk melingkari ke-12 nama sastrawan, yang sebagian dicetak tebal dan sebagian lainnya dicetak biasa. Kekiniiannya ditunjukan dengan ujung kabel mouse yang memakai colokan usb.

Pemakaian warna merah yang berarti berani senada dengan penempatan nama Pramoedya dan Sitor yang ada di paling atas dan dicetak tebal. Nama yang dulu sering mengundang kontroversi, namun jika kita simak kisah mereka lebih dalam justru memberikan sebuah pelajaran yang bermakna. Seperti yang dikatakan Sapardi Djoko Damono, semuanya hanyalah permainan kata-kata, ya hanyalah sebuah permainan makna.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 18, 2018 in resensi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Resensi Buku Writing Donuts; Cara Paling Nikmat untuk Menulis

Judul : Writing Donuts: Cara Paling Nikmat Jadi Penulis Hebat dan Kaya Raya!

Penulis : Joni L. Efendi

Penerbit : Buku Biru, Yogjakarta

Hal : 262 halaman

Cetakan : Pertama, Desember 2009

ISBN : 978-602-955-394-9

Andai saja menulis adalah proses yang sederhana seperti ketika kita akan menulis donuts. Yaitu merangkai beberapa lambang alfabet yang akhirnya membentuk satu kata, donuts. Sederhana bukan? Begitu juga dengan menulis, setidaknya menurut buku ini, menulis itu memang benar-benar sesederhana ketika anda menikmati setiap gigitan donat di mulut anda.

Tapi sebelum kita menulis, ada baiknya untuk tahu alasan mengapa kita harus melakukannya. Simak kisah penuh inspirasi mengenai Freedom Writers yang dibahas di salah satu bab dalam buku ini. Dengan menulis, sekelompok remaja SMA di Long Beach California Selatan Amerika Serikat, berhasil mengubah nasib mereka. Latar belakang yang penuh dengan kisah tragis membuat mereka kehilangan rasa percaya diri dan tidak berani untuk menatap masa depan. Tapi dengan rajin menulis diary, mereka mampu untuk bangkit kembali bahkan siap menghadapi masa depan yang penuh tantangan dengan lebih optimis.

Tidak hanya untuk meredakan kegelisahan jiwa yang membebani setiap individu, dengan menulis pun kita bisa kaya raya! Menulis merupakan investasi yang kebilang murah namun menjanjikan di masa depan. Faktanya penulis tetralogi Laskar Pelangi Andrea Hirata, sukses menjadi miliarder yang penjualan novel seri pertamanya saja mampu menembus angka 1 juta eksemplar. Penulis-penulis seperti J.K. Rowling, Stephen King, adalah nama-nama yang sering disebut dalam daftar orang terkaya di dunia.

Untuk menjadi seorang penulis yang baik, hal pertama yang harus dilakukan adalah menulis. Pokoknya tulis saja apa yang ada dalam benak anda saat ini. Tulis dan tulis terus menerus tanpa henti, sampai anda sadar bahwa satu halaman kertas kosong itu penuh dengan coretan tangan anda. Setelah itu coba baca kembali, dan hey! Anda akan menemukan kata-kata mutiara yang secara tidak sadar, anda sendiri yang telah menulisnya.

Ada beberapa tips dalam memulai penulisan, pertama pilih tempat yang bisa membuat rileks dan nyaman sehingga ide akan mengalir deras bagai air terjun di kepala anda. Bisa saja tempat sepi yang jauh dari hiruk pikuk, atau di tempat umum seperti kafe atau perpustakaan. Kedua, fokuskan konsentrasi pada bahan yang akan ditulis. Singkatnya anda bisa membuat kerangka tulisan yang terbukti efektif untuk memfokuskan bahasan.

Ketiga, hindari gangguan sekecil apa pun yang bisa membuyarkan konsentrasi. Periksa semua keperluan dan selesaikan semua urusan yang mendesak, supaya pikiran bisa tenang ketika anda menulis. Keempat, biasakan menulis catatan harian atau catatan saku. Luangkan waktu kurang lebih lima sampai sepuluh menit untuk menulis di buku harian, percayalah anda tidak akan rugi. Kelima, bersikap baiklah terhadap diri sendiri. Berhenti sejenak jika anda sudah merasa kelelahan, dan beralihlah pada aktivitas lain untuk menghindari kebuntuan. Dijamin pada saat anda kembali anda akan merasa lebih segar dan siap menulis lagi.

Jangan pernah menunggu ide untuk datang ke hadapan anda. Makhluk satu ini bagai kuda liar memesona, indahnya bukan main namun sulit untuk ditangkap. Ada dua hal mengapa kita selalu bermain petak umpet dengan sosok ide. Pertama, kepala kita bisa saja kebanjiran ide, tapi kita belum siap menerimanya. Kondisi ini mungkin terjadi ketika kita melakukan aktivitas dan ide tiba-tiba melintas dengan cepat. Saran terbaik, selalu siap buku saku dan pena kemana pun anda pergi, atau anda bisa mengetiknya pada telepon seluler.

Kedua, kita sudah siap untuk menulis, tapi idenya tidak pernah muncul. Biasanya dialami ketika kita sudah siap di depan monitor atau pena sudah ditangan, kertas kosong di meja, tapi hanya bisa memandangnya saja dengan tatapan kosong. Hal yang bisa anda lakukan adalah mempersiapkan bahan sebelum memulai. Tulis kerangka atau membuat sketsa dari cerita yang akan anda tulis.

Jika anda sudah melakukan semua hal diatas namun masih menunggu mood untuk menyapa, maka dia hanya akan menertawakan anda. Mulailah menulis dengan pikiran positif. Tulis cepat apa yang ada dalam benda empuk berwarna abu-abu di kepala anda. Yakinlah pada diri sendiri bahwa anda bisa menulis dengan baik. Intinya anda menulis apa adanya, anggap saja senam pemanasan buat jari-jari dan pikiran sebelum menulis yang sesungguhnya.

Tahukah anda, kita semua punya peluang untuk menjadi penulis kenamaan. Hanya butuh sedikit keberanian untuk menjadi seorang penulis profesional. Hancurkan tembok penghalang yang selama ini membelenggu anda. Hilangkan perasaan seperti takut ditolak dan kurang percaya diri. Terus berusaha dan bersabarlah. Tetap menulis dan kirimkan saja.

Buku ini sarat dengan motivasi dan akan membuat pembacanya untuk segera menulis, saat itu juga. Dianjurkan sekali untuk penulis pemula yang selalu kesulitan untuk memulai sebuah tulisan. Ada banyak tips dan trik seputar menulis dan cara mendobrak tembok kebuntuan ketika menulis. Tidak hanya teknik menulis, buku ini juga memberikan sedikit ilmu tentang beberapa genre dalam karya fiksi, dan unsur-unsur dalam sebuah karya fiksi.

Penulis pun berbagi sedikit pengalaman seputar menerbitkan sebuah karya tulis. Anda pun akan mendapatkan ilmu tentang masalah kerjasama dengan penerbit, pembagian royalti dan hak cipta. Buku ini juga mencantumkan data lengkap koran, majalah dan penerbit se-Indonesia, dimulai dari alamat, nomor telepon, faksimil, email dan website-nya.

Secara keseluruhan buku ini akan menyulut semangat anda untuk menulis dan jangan pernah ragu lagi unuk menulis. Benar-benar buku panduan yang akan menemani anda dari awal penulisan hingga apa yang harus dilakukan sesudahnya. Lebih lagi buku ini juga memberi sekilas tentang penerbitan dan hak-hak yang dimiliki oleh penulis. Jangan sampai para penulis kebakaran jenggot karena dia tidak paham akan hak dan kewajibannya. Sayangnya buku ini tidak dilengkapi dengan daftar pustaka, sehingga terasa hambar ketika kita membaca hal-hal yang berbau teoritis yang diungkapkan di dalamnya .

Kaitan antara judul utama dan sub judul pun kurang berkorelasi. Cover yang menampilkan sebuah donat berbalut coklat dengan siraman gula cair berwarna oranye, memang menggugah selera. Apalagi font tulisan dan warna yang digunakan dibuat mirip dengan salah satu restoran donat ternama di Indonesia. Penampilan cover yang menarik seperti ini sesuai dengan judul utamanya, tapi menjadi agak memaksakan pada sub judulnya. Justru sub judul-lah yang menjiwai keseluruhan isi buku, yaitu mengajarkan kita untuk menikmati proses penulisan, seperti kita menikmati donat.

Buku ini akan ikut meramaikan pustaka seputar dunia kepenulisan bagi penulis pemula yang masih remaja. Disampaikan dengan gaya bahasa populer sehingga terasa akrab di telinga anak muda. Tapi tidak menutup kemungkinan bagi kalangan dewasa untuk membacanya, karena sarat dengan motivasi, pengetahuan dan setidaknya akan menghibur mereka serasa muda kembali.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 17, 2018 in resensi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: