RSS

Arsip Bulanan: November 2018

phantasm

do you remember?  that wind in November

when the blue sky returned for awhile

the six inches raindrop seems to run out in October

the world completely covered in azure textile

 

the thin and smooth puff puffing here and there

the crisp air welcomes in the morning

wake up and forget the dream about that honey bear

get up and listen to the song the robin sing

 

hello, how are you? i wish i had known you earlier

and perhaps we can rewrite our history

won’t promise anything better in the future

but i guess maybe just maybe, there’ll be more victory than misery

 

and when the night drop the dark curtain

the moon running through the leaves on the trees

are you there to unleash the horror in me?

or am i here to seal the beast in you?

 

we will never know, we will never know

so when your heart starts to sing something low

and you didn’t like the flow

just remember when the wind blow

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 17, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , ,

the caterpillar

so what stripes are you wearing for today?

or maybe those dots fits the mood, oh so good

but perhaps two stacks of colors is the best

possibly the illuminated string circled round you

from top to bottom, but it never match the shoes

 

you didn’t say “how are you?”

instead you ask “who are you?”

it’s not that i didn’t think it through

but i just simply don’t have a clue

i mean come on just look at you!

 

that irritating spikes makes people shouted yikes

but i know you don’t mind and just hurried along in a rush

and like an upside walking brush, you mesmerize every eyes

by the way you crawl or when you’re measuring the earth

with those black, white and yellow, or green, blue and red

 

can’t you just decide one particular color?

well i guess not, cause it’s part of your culture

a fast smooth rising and falling natural crawler

egg shell chewer since birth and non-stop leaves biter

you just keep eat and grow, a loyal plant consumer

 

you lived big in this short stage of your life

you keep growing and expanding to the fullest extent

who said extra size doesn’t match with flashing colors

look at you, will never stop dining until the time is come

and when the time is come, will you remember me?

 

hanging on to the edge with those soft silk pad

you gave yourself to the gravity turning beautifully upside down

or curled up comfortably hiding under that green fresh sheets

letting go once again the dazzling skin that stretched to the limit

and you rest aside from the world, waiting

 

is not really goodbye isn’t it?

you’re just sleeping inside that pupa suit

to take a break and take sometimes to reboot

then you’ll return and transformed into a higher spirit

and when you do, you’ll hear my voice

between the flap flapping of your wings

and i can assure you for once i was Alice

and you are you, and i am me as it used to be

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada November 9, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , ,

the moon

you take a hold of my hand

but only to let me go

and like those branches without leaves

shivering in the cold

oh you’re so cold

 

so let’s put a new colors

to that far side of the moon

perhaps this time he’ll showed up

in the night all he might

oh you’re so gray

 

can i switch on the starlight

and let the night put a dark blanket

allow me to sleep and dream about

that dim gray earth’s satellite

you’re so far away

 

you let me screaming out your name

to that empty sky where hopes lies

and you let my voice hanging in there

never meant to bring it back home

never meant to be together

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2018 in puisi, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , ,

Nov 5

 “Remember, remember the fifth of November of gunpowder treason and plot. I know of no reason why the gun powder treason should ever be forgot.”

Setiap tanggal 5 datang terutama di bulan ini, suara Natalie Portman langsung bergaung dalam ruang berkubah di kepalaku. Ya, hingga hari ini tidak bisa melupakan suara melankolis itu. Beberapa tahun yang lalu secuil informasi datang mengabarkan, sebuah film dibuat berdasarkan buku seri komik, graphic novel yang berjudul sama. Singkatnya membaca cerita bergambar adalah salah satu hobi, dan menonton adalah yang lainnya. Jadi keputusan untuk menyewa DVD berjudul sederhana V for Vendetta, adalah sebuah kewajiban yang dinikmati.

Suara karismatik Hugo Weaving memberikan nafas pada tokoh anarkis yang dipanggil dengan sebutan “V”. Dia tidak bisa lepas dari topeng Guy Fawkes, yang mungkin saja merupakan teladannya untuk melawan pemerintahan Inggris di masa depan. Kata-kata yang menggugah emosi, meruncingkan otak yang tumpul, membangunkan sesosok makhluk di dalam diri setiap yang tersentuh, menyadarkan mereka akan kemampuan kita untuk berbuat sesuatu, itu yang saya dapatkan ketika mengikuti kisah dalam film ini.

Dipenuhi dengan karakter-karakter yang kuat, baik yang antagonis maupun protagonis. Salah satu alasan, menurut saya, yang membuatnya padat dengan pesan dan disampaikan dengan baik sekali. Merombak pola pikir kita dengan memberikan gambaran simbol-simbol segala sesuatu yang diasosiasikan dengan kebaikan belum tentu bertindak benar. Keseragaman merupakan sesuatu yang membosankan. Tidak lagi hidup karena manusia sendirilah yang melenyapkan warna warni kehidupan itu.

Rumit tapi indah, itulah yang ditawarkan, kurang lebih seperti apa yang kita coba jalani dalam hidup ini. V meninggalkan kesan yang mendalam, karena kita hanya disodorkan seseorang yang selalu memakai topeng. Meskipun terlukis dengan lengkungan senyum tapi matanya yang kosong membuatnya tetap dingin dan tanpa ekspresi, misterius dan susah diterka. Namun ada suasana keagungan dan kekuatan yang seperti api abadi, sulit untuk  dipadamkan.

Masa lalu yang begitu traumatis melahirkan sosok baru yaitu V. Sejak saat itu tujuannya hanya satu, menciptakan kekacauan. Agendanya yaitu membalas dendam pada para penangkapnya, dan menggulingkan pemerintahan yang berkuasa saat itu. Kalimat tadi membuatnya seolah-olah mudah, tapi kita tahu, tidak akan segampang itu. Memang butuh tokoh yang karismatik dan menginspirasi untuk menggerakkan seluruh orang agar bertindak. Dan itu harus dibayar sangat mahal oleh V.

Saya menyukai semua hal dalam film ini 😁, kecuali bagian-bagian yang berdarah, itu agak sedikit membuat mual 😖. Dan puisi The Fifth of November, yang menjiwai cerita ini,  menjadi sebuah mantra yang dirapalkan Portman, “remember … remember … “, yep saya rasa itu yang menghipnotis saya untuk selalu ingat 😉

Sejak saat itu saya jadi tahu topeng yang selalu muncul dalam aksi demonstrasi, ternyata penggambaran dari seorang Guy Fawkes. Tanggal ini menjadi hari yang diperingati oleh masyarakat Inggris Raya, justru karena kegagalan konspirasi dari komplotan Fawkes. Meskipun demikian dia menjadi simbol abadi dari perlawanan, atau dengan kata lain melakukan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.  Dan seperti yang disampaikan dengan indah sekali oleh penulis asli bukunya, Alan Moore mengenai sebuah gagasan, ialah ia tidak bisa mati.

“We are told to remember the idea and not the man.

Because a man can fail.

He can be caught, he can be killed and forgotten.

But 400 years later, an idea can still change the world.

I have witnessed firsthand the power of ideas.

I’ve seen people kill in the name of them.

But you cannot kiss an idea… cannot touch it or hold it.

Ideas do not bleed.

They do not feel pain.

They do not love.

And it is not an idea that I miss.

It is a man.

A man that made me remember the 5th of November.

A man that I will never forget.” 

― Alan Moore, V for Vendetta

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 6, 2018 in jurnal, remeh temeh, resensi

 

Tag: , , , , , , , , ,

 
%d blogger menyukai ini: