RSS

no more high heels shoes please

25 Okt

no more high heels shoes please,

yeah setidaknya buatku hehe …

malam ini aku baru saja melepaskan kuku kelingking kaki kanan ku yang mati dan lepas dari tempatnya. Aku baru menyadari ternyata ukurannya lebih kecil dari pada kuku kelingking tangan ku, yang memang sudah terkenal kecil. Kalau dibandingkan, dengan orang-orang di sekitarku,  mungkin sama seperti kuku anak-anak. Yaah, kira-kira panjangnya 1 cm dan tingginya sekitar 0.3 inchi. Terbayang? Warnanya tidak bening tentu saja, karena dia mati, putih dan agak kusam, tapi tidak berbau tentu saja, karena dia tidak membusuk.

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa mati lalu terlepas dari tempatnya.

Tapi beberapa bulan sebelumnya, kelingking kaki kanan ku menghitam setelah aku menggunakan sepatu hak tinggi. Hari itu aku berlari bolak balik sepanjang koridor yang mengelilingi sebuah ballroom di sebuah hotel. Berjalan cepat-cepat dari ujung ke ujung ballroom. Melangkah lebar-lebar, kadang pendek, dan melompat sedikit, untuk menghindari kabel-kabel yang melata dan meliuk-liuk di lantai ballroom yang berkarpet motif bunga-bunga nan empuk itu. Dengan sigap aku mengerem tepat pada waktunya sebelum aku tersandung jalinan kabel. Hehe … profesional dan elegan sekali, yaah setidaknya menurutku.

Aku merasa sangat tinggi tentu saja, dan hmm … anehnya lebih percaya diri. Padahal sepatu kulit hak tinggi berwarna coklat dengan motif kulit salah satu binatang liar itu adalah sepatu pinjaman. Bukan milikku tapi milik orang lain. Efek yang buatku cukup menakjubkan. Mengapa kita harus bangga pada sesuatu yang bukan milik kita?

Selama setengah hari itu, kaki ku tersiksa, but the show must go on. Ya! Perjuangan memakai sepatu hak tinggi selama (hee…) tiga jam adalah tentang kakiku versus hak tinggi. Aku takkan pernah terbiasa dengannya. Selama masih bisa berdiri, berjalan dan berlari, maka berdiri, berjalan dan berlari-lah aku sepanjang acara itu. Dan ketika semuanya selesai, aku mengucap syukur Alhamdulillah dengan melepaskan sepatu itu dari kakiku, perlahan-lahan.

Aku rasa kaki kiriku tidak apa-apa, ya mereka baik-baik saja. Tapi kaki kananku, selain menderita kapalan yang tingkat kecenangannya (hehe … bahasa indonesianya apa ya?!?) cukup mengkhawatirkan, kelingking ku juga menghitam dan agak sakit. Jangankan ditekan, dibiarkan begitu saja, terasa nyut-nyut-an nya. Hari itu jari-jari kaki ku menahan beban yang berat sekali. Dan mungkin kelingking kaki kanan ku tidak cukup tahan dengan cobaan yang menghadangnya di hari itu.

Tidak cukup hanya di kaki, cobaan itu datang menghadang, tapi juga pada my pride (wuiiih…). Seorang teman wanita yang terbiasa dengan hak tinggi berkata, “emh atuh, kaki orang udik,”. Aku hanya tersenyum, kaki boleh udik, tapi otak … ga pa pa sedikit udik juga hehe… Hey! Kita harus mempertahankan kepolosan seorang udik. Tanpanya, dunia akan kehilangan salah satu warnanya yang mencolok, yaah setidaknya menurutku.

Lagipula, ini menurutku lho, yaah hanya sebuah pikiran remeh temeh, mengapa wanita memakai sepatu hak tinggi? Mungkin, hanya mungkin, mereka tidak mau diremehkan oleh kaum pria. Namanya kan ‘hak tinggi’, kenapa bukan ‘tumit tinggi’?

Ya, karena hak dalam pengertian sesuatu yang semestinya diperoleh, harus sama tingginya dengan kaum pria, atau sejajar. Meskipun jika mereka harus menjalaninya dengan melewati sejumlah penderitaan. Seperti sakit di bagian kaki, pegal-pegal di seluruh badan kemudian, dan jangan lupa kram ketika malam tiba. Tapi demi kesetaraan, atau mungkin hanya sekadar untuk disadari keberadaannya, wanita oh wanita mau melakukan apa pun juga untuk mencapainya.

Hhm … rasanya aku melenceng cukup jauh. Setelah beberapa hari kemarin, keadaan kelingking kaki kanan ku cukup menggembirakan, karena warna hitamnya sedikit demi sedikit memudar. Aku agak kaget ketika membersihkannya, kuku itu tiba-tiba terlepas sebagian, tapi masih menempel di ujung atas sebelah kirinya. Selama berhari-hari aku biarkan saja, karena aku takut, jika dipaksa dicabut akan berdarah. Tapi malam ini, kuputuskan, semua ini harus ku selesaikan, aku harus menuntaskan segalanya malam ini. Jangan ada yang tersisa.

Tanganku yang suka berkeringat, semakin bertambah basah. Ku cabut pelan-pelan, rasanya seperti menyobek sesuatu yang sedikit alot, tapi mudah sekali. Tak ada darah yang menetes malam ini. dan terlepas sudah kuku kelingking kaki kanan ku yang mati itu.

Saat ini kelingking kaki kanan ku baik-baik saja, warnanya merah muda dan merona segar, dan lapisan terluarnya masih belum sekeras kuku tetangganya, tapi aku yakin, dia pasti akan baik-baik saja. Selamat tinggal masa lalu dan selamat datang masa yang akan segera tiba, yang pasti akan lebih menjanjikan dan penuh harapan.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 25, 2010 in jurnal, remeh temeh

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

One response to “no more high heels shoes please

  1. Yudha P Sunandar

    Desember 22, 2010 at 12:58 am

    tampakny ini postingan pertama dan terakhir, bu? hehe 😀

    Suka

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: